Wajah Baru Ruang Limpah Sungai Brigif: Titik Nyaman di Selatan Jakarta

Wajah Baru Ruang Limpah Sungai Brigif: Titik Nyaman di Selatan Jakarta

Mencari tempat untuk bersantai di hiruk-pikuk Jakarta Selatan kini menjadi jauh lebih mudah bagi warga ibu kota. Di tengah deretan gedung dan pemukiman padat Jagakarsa, sebuah permata hijau bernama Ruang Limpah Sungai (RLS) Brigif kini tengah mencuri perhatian sebagai destinasi favorit baru. Kawasan yang dikelola oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) Daerah Khusus Ibukota Jakarta ini bukan sekadar waduk penampung air, melainkan oase yang menawarkan ketenangan di tepi perairan bagi mereka yang ingin sejenak melarikan diri dari rutinitas.

Dulu, kawasan ini didominasi oleh deretan kolam dan taman yang bersahaja. Namun, wajah RLS Brigif mengalami transformasi yang luar biasa setelah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Rasyid Baswedan, pada 4 Oktober 2022. Sejak saat itu, suasana di sini berubah drastis menjadi ruang rekreasi yang semarak, mempertemukan warga dari berbagai latar belakang untuk beraktivitas fisik hingga sekadar mengeksplorasi minat pribadi di bawah langit senja.

Bagi sebagian orang, permukaan air waduk yang tenang adalah tempat terbaik untuk membuang penat. Dimas Jati Kusuma (24), seorang pemuda asal Kebagusan, adalah salah satu pengunjung setia yang menganggap RLS Brigif sebagai lokasi ideal untuk relaksasi. Baginya, akses yang mudah—hanya 20 menit berkendara dari kediamannya—menjadi alasan utama untuk rutin datang ke sini.

"Waduk ini sih bagus Bang, cocok banget nih buat orang-orang yang nyore gitu. Bengong di sore hari, buat olahraga asik karena rute untuk jalurnya ini luas banget," ungkap Dimas, warga Kebagusan.

Bersama dua rekannya, Dimas kerap menghabiskan waktu sore dengan memancing. Hari itu, keberuntungan berpihak padanya saat ia berhasil mengamankan ikan gabus broso dan ikan perot dari kedalaman waduk. Sambil memegang joran, ia bercerita bahwa waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat matahari mulai condong ke barat, di mana udara segar berpadu sempurna dengan pemandangan matahari terbenam yang memukau mata.

Lintasan Lari dan Pertemuan Tak Terduga dengan Alam

Jika Dimas mencari ketenangan, Muhammad Fauzan (16) datang membawa energi yang berbeda. Remaja asal Swadaya ini memanfaatkan jalur inspeksi sepanjang 2,2 kilometer yang mengelilingi waduk untuk mempertajam kecepatan larinya. Sebagai seorang atlet yang sedang mempersiapkan diri untuk seleksi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), jalur yang luas di RLS Brigif adalah arena latihan yang mumpuni, meskipun ia memiliki strategi waktu sendiri agar tidak terhambat oleh kerumunan pengunjung lain.

"Soalnya kalau sore rame Bang, takutnya nabrak. Saya kan lari agak lumayan kenceng, udah gitu yang datang-datang tuh biasanya lewat tengah-tengah terus pelan," kata Fauzan, remaja asal Swadaya.

Aktivitas lari Fauzan di sekitar waduk seluas 10 hektare ini terkadang memberikan kejutan yang tidak terduga. Di balik fungsi teknisnya sebagai infrastruktur pengendali banjir, kawasan ini ternyata menjadi rumah bagi beberapa fauna liar. Fauzan, yang memiliki minat khusus terhadap reptil, mengaku sering melihat satwa yang melintas di depannya saat sedang memacu adrenalin di lintasan lari.

"Saya kan suka reptil ya, nyari ular. Lagi lari pernah ketemu ular dua kali, lagi lewat gitu dah," kata Fauzan.

Harapan di Balik Keindahan Fasilitas

Meski transformasi RLS Brigif mendapat apresiasi positif, para pengunjung tetap menaruh harapan besar pada peningkatan fasilitas di masa depan. Dimas, misalnya, menyoroti kondisi kawasan saat hari mulai gelap. Minimnya lampu penerangan menjadi kendala utama bagi warga yang ingin tetap beraktivitas atau memancing hingga malam hari. Selain itu, ia membayangkan adanya area kebugaran di ruang terbuka yang bisa diakses secara cuma-cuma.

"Kalau untuk fasilitas kayaknya sih udah Bang. Udah bagus sih fasilitas cuman paling yang kurang apa ya? Kalau untuk malam sih penerangan aja sih. Harapannya sih ini sih Bang ya, kayak bolehlah ditambahin alat-alat fitness segala macam. Ditaruh di beberapa titik alat-alat fitness," kata Dimas.

Di sisi lain, aspek keamanan menjadi perhatian utama bagi Fauzan. Pengalamannya melihat insiden di masa lalu membuatnya waspada akan pentingnya pembatas fisik yang lebih menyeluruh di sepanjang tepian air. Baginya, keamanan anak-anak dan pengguna kendaraan listrik harus menjadi prioritas pengelola agar kejadian serupa tidak terulang kembali di titik-titik yang masih terbuka.

"Udah oke kok, tapi cuman ini ya kurang pembatas ini, apa namanya, pagar-pagar. Takutnya ada anak kecil kan, duluan ada tuh kasusnya ibu-ibu nyebur dengan anak sepedah listrik di waduk sini nih. Tapi sekarang udah ada, udah digituin sih udah aman.Iya dibanyakin lagi ya. Masih banyak yang bolong-bolong. Nggak sepenuhnya" ujar Fauzan.

Persoalan lingkungan juga tidak luput dari perhatian. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan klasik di ruang publik ini. Fauzan menekankan pentingnya edukasi bagi pengunjung agar menjaga kebersihan kawasan, mengingat tumpukan sampah tidak hanya merusak estetika tetapi juga menimbulkan bau yang mengganggu kenyamanan bersama.

"Ini bisa mengedukasi masyarakat pada sampah, soalnya pada banyak yang lalai. Iya, soal sampah pertama kan. Saya nggak suka tuh ada sampah buang sembarangan, saya nggak suka. Ya kan baunya juga nggak enak," kata Fauzan.

Saat ini, Dinas Sumber Daya Air telah memasang papan informasi yang memuat aturan ketat, mulai dari larangan berjualan di badan jalan, larangan berenang, hingga larangan penggunaan kendaraan bermotor di dalam kawasan RLS. Kehadiran RLS Brigif menunjukkan potensi besar Jakarta dalam menciptakan ruang terbuka yang estetis dan fungsional. Kini, tinggal bagaimana sinergi antara kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan dan konsistensi pemerintah dalam merawat fasilitas dapat berjalan beriringan demi menjaga kenyamanan oase ini tetap lestari.

Artikel terkait

Rekomendasi