Kawasan DUMBO atau Down Under the Manhattan Bridge Overpass yang viral di New York kini menjadi pusat keresahan penduduk setempat. Seperti dilansir dari Detik Travel, spot foto ikonik dengan latar belakang Jembatan Manhattan tersebut dinilai telah berubah menjadi lokasi yang sangat semrawut.
Ledakan jumlah wisatawan memicu masalah serius mulai dari kemacetan parah, tumpukan sampah, hingga kehadiran pedagang kaki lima tanpa izin. Situasi ini diprediksi akan semakin memburuk saat gelaran Piala Dunia 2026 berlangsung di kota tersebut.
Kedatangan sekitar 1,2 juta penggemar sepak bola saat turnamen dunia itu diperkirakan akan menambah beban di wilayah yang sudah sangat sesak. Setiap harinya, ribuan turis terus memadati kawasan elite ini tanpa adanya infrastruktur pendukung yang memadai.
Masyarakat lokal kini menggambarkan kondisi lingkungan mereka seperti neraka akibat tumpukan sampah yang menimbulkan aroma tidak sedap. Selain itu, populasi tikus dilaporkan meningkat seiring dengan menjamurnya pedagang ilegal yang bersikap agresif kepada pejalan kaki.
Ironisnya, DUMBO merupakan salah satu kawasan paling mahal dengan rata-rata harga sewa apartemen mencapai USD 5.200 atau setara Rp 83 juta per bulan. Mengutip New York Post pada Jumat (8/5/2026), warga merasa kualitas hidup mereka menurun drastis.
"Kualitas hidup di sini anjlok drastis. Ini adalah komunitas yang hebat dan terbuka bagi dunia, tapi sekarang situasinya benar-benar kacau," kata Sheryl Buchhotz.
Meskipun pihak kepolisian rutin melakukan tindakan penertiban, upaya tersebut dinilai tidak efektif karena pedagang ilegal kerap kembali dalam waktu singkat. Keuntungan besar dari transaksi dengan wisatawan membuat para pedagang tersebut tidak keberatan membayar denda administratif.
"Akan butuh bencana besar sebelum ada sesuatu yang berubah," ujar warga lainnya, Tara Quinn.
Kurangnya Dukungan Infrastruktur
Washington Street menjadi titik paling populer bagi wisatawan untuk berswafoto, namun kawasan ini dianggap tidak siap menampung volume massa yang besar. Jimmy Ng, seorang warga setempat, membandingkan kepadatan tersebut dengan Times Square.
"Masalahnya bukan orang dilarang datang ke sini, tapi tidak ada dukungan infrastruktur untuk menampung volume massa sebanyak itu," kata Jimmy.
Kekhawatiran semakin meningkat mengingat New York juga akan merayakan ulang tahun Amerika Serikat ke-250 sebulan setelah Piala Dunia. Warga mencemaskan akses layanan darurat seperti ambulans yang mungkin terhambat oleh kepadatan massa jika koordinasi keamanan tidak segera dibenahi.
Dewan Kota setempat, Lincoln Restler, memberikan pengakuan bahwa pemerintah kota saat ini belum memiliki rencana terpadu untuk menangani lonjakan wisatawan tersebut. Saat ini, pihaknya tengah menyusun regulasi baru untuk mengatur sektor pariwisata di kawasan DUMBO.
"Saya tahu orang-orang merasa frustrasi. Kita harus melakukan yang lebih baik," ujar Restler.