Warga Jakarta Padati Kawasan Blok M untuk Liburan Akhir Pekan

Warga Jakarta Padati Kawasan Blok M untuk Liburan Akhir Pekan

Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, dipadati oleh masyarakat dari berbagai generasi yang menghabiskan waktu akhir pekan untuk menikmati kuliner, berbelanja, serta bersantai di ruang terbuka hijau, seperti dilansir dari Megapolitan.

Integrasi transportasi umum seperti MRT Jakarta, Transjakarta, dan Mikrotrans mempermudah akses pengunjung menuju pusat kegiatan tersebut. Kondisi lingkungan yang saling terhubung menjadikan kawasan ini sebagai ruang publik yang hidup.

Daya tarik utama kawasan ini terletak pada atmosfer keramaian yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang berkunjung.

“Justru kadang serunya di situ (ramai), suasananya hidup banget,” kata Raka, pengunjung Blok M.

Raka menjelaskan bahwa kawasan tersebut mempermudah aktivitas pengunjung karena menyediakan berbagai fasilitas pendukung dalam satu lokasi yang terintegrasi, ditambah dengan besarnya pengaruh media sosial yang memicu rasa penasaran publik.

“Menurut saya enaknya Blok M tuh karena kawasan ini nyambung semua. Mau cari kopi, makanan, thrifting, sampai cuma duduk ngobrol juga bisa,” ujar Raka.

Kemudahan mobilitas menuju lokasi didukung penuh oleh ketersediaan halte dan stasiun transit yang terhubung langsung dengan berbagai rute angkutan umum.

“Mau naik MRT gampang, Transjakarta juga ada. Terus pilihan tempat nongkrongnya tidak habis-habis,” kata Raka.

Bagi masyarakat generasi tua, kawasan ini memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai titik transit utama bagi mobilitas warga Jakarta sejak beberapa dekade lalu.

“Dulu memang sudah terkenal jadi titik transit orang-orang. Saya sering lewat sini naik bus kota. Jadi Blok M bukan tempat nongkrong seperti sekarang, tapi untuk aktivitas sehari-hari,” kata Mashudi, pengunjung generasi lama.

Perubahan tata kota dan fasilitas transportasi di Blok M memicu ingatan kolektif masa lalu bagi warga yang pernah aktif beraktivitas di sana pada era sebelum reformasi.

“Dulu, zaman dulu sering (ke sini), tapi zaman dulu sebelum dia seperti sekarang, tahun 1990-an lah. Masih ada Bis Maya Sari, PPD, belum ada Busway,” kata Aca, pengunjung asal Kelapa Gading.

Fenomena kuliner yang viral di media sosial juga memicu antrean panjang masyarakat yang rela menunggu demi mencoba menu makanan populer.

“Sampai sini jam 11-an pikirnya belum terlalu ramai karena belum jam makan siang, ternyata zonk. Ekor antreannya sudah panjang banget,” kata Amanda, pengunjung dari Jakarta Barat.

Dorongan untuk mencoba makanan yang sedang populer di internet memberikan kepuasan tersendiri bagi para pengunjung yang rela mengorbankan waktu libur mereka.

“Penasaran banget sama saltbread-nya yang katanya menteganya lumer. Jadi ya sudahlah, mumpung hari Minggu sekalian war antrean aja,” ucap Amanda.

Selain sektor kuliner, bagian basement Blok M Square menjadi pusat perburuan kolektor yang mencari barang-barang antik dan media fisik era analog.

“Pengin nunjukin ke anak kalau zaman papanya sekolah dulu dengerin musik tuh pakai pita magnetic begini yang diputar, bukan cuma lewat streaming di handphone,” tutur Radit, pengunjung Blok M Square.

Keberadaan barang vintage yang terjaga dengan baik menjadi nilai tambah bagi komunitas kolektor yang rutin berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut.

“Ada kepuasan yang beda pas kita nemu kaset yang kondisinya masih bagus dan pitanya nggak kusut setelah selap-selip di antara tumpukan barang lama,” ujar Rahman, kolektor kaset.

Aktivitas masyarakat di Blok M kemudian ditutup dengan bersantai di area terbuka seperti Taman Literasi setelah mereka selesai berbelanja.

“Habis dari bawah sini, saya sama temen-temen rencana mau nongkrong di taman,” kata Nadia, pengunjung dari Jakarta Timur.

Artikel terkait

Rekomendasi