Tingkat keamanan publik di China menuai decak kagum dari para wisatawan mancanegara. Keamanan yang prima menjadi salah satu alasan utama yang membuat warga asing merasa betah untuk tinggal maupun berkunjung ke Negeri Tirai Bambu tersebut.
Pengalaman nyata mengenai situasi kondusif ini dirasakan langsung oleh seorang pembuat konten asal Afrika Selatan, Jannelize Bessenger. Seperti dikutip dari Detik Travel, Bessenger melakukan sebuah eksperimen dengan meninggalkan tas penuh barang berharga di area super sibuk di Kota Chongqing.
Bessenger kemudian pergi berjalan-jalan menyusuri jalanan kota, menikmati kuliner lokal, serta melihat pemandangan malam selama kurang lebih 100 menit. Ketika kembali ke lokasi awal, dia mendapati seluruh barang miliknya masih berada dalam posisi semula tanpa ada yang berkurang atau bergeser.
"Saya sudah berkali-kali membuktikan bahwa tidak ada barang yang akan dicuri. Keamanan adalah alasan utama mengapa saya tinggal di China," kata Bessenger, dilansir dari Xinhua, Rabu (20/5/2026).
Bessenger yang kini menetap di Kunming, Provinsi Yunnan, tercatat sudah tinggal di China selama tujuh tahun. Menurut pengamatannya, faktor utama penentu keamanan di negara tersebut bukan hanya karena kesiapan aparat penegak hukum.
"Orang-orang yang tinggal di sini dan nilai-nilai serta penghormatan mereka terhadap kehidupanlah yang menjadikan China sebagai tempat paling aman yang akan saya tinggali selama bertahun-tahun," jelas Bessenger.
Bessenger turut membagikan kenangan pada tahun 2019 saat dia baru empat bulan menginjakkan kaki di China. Kala itu, dia mendadak terserang sakit parah di Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi.
Meski sudah menyimpan titik lokasi rumah sakit di dalam ponsel, dia tetap tersesat karena belum fasih berkomunikasi dalam bahasa Mandarin. Bessenger akhirnya mencoba meminta bantuan kepada seorang warga lokal.
Pria setempat itu kemudian memanfaatkan aplikasi penerjemah di ponsel pintar miliknya dan mengantarkan Bessenger langsung menuju rumah sakit menggunakan kereta bawah tanah. Setibanya di lokasi, sang penolong langsung pergi begitu saja tanpa meminta imbalan uang ataupun nomor kontak.
Ketika mengalami kesulitan tidur sekitar pukul 11 malam, Bessenger mengaku terbiasa berjalan kaki sendirian sambil mendengarkan musik lewat earphone tanpa rasa cemas. Dia juga gemar menjelajahi tempat-tempat baru tanpa harus terus-menerus memantau peta digital.
Rapor Keamanan Global yang Tinggi
Kondisi di lapangan ini selaras dengan rilis data resmi. Berdasarkan data Xinhua, Laporan Keamanan Global (Global Safety Report) 2025 dari Gallup menunjukkan bahwa China menorehkan skor yang sangat tinggi dalam indeks rasa aman publik serta ketertiban hukum.
Jaminan keselamatan ini terbukti menjadi daya pikat kuat yang memicu lonjakan angka kunjungan turis jangka pendek. Sepanjang tahun 2025, arus kedatangan wisatawan asing ke China menembus angka 150 juta orang, atau melonjak lebih dari 17 persen secara tahunan.
Dari total pergerakan tersebut, terdapat lebih dari 30 juta pelancong mancanegara yang masuk ke wilayah China dengan memanfaatkan fasilitas kebijakan bebas visa.
Dukungan Integrasi Teknologi
Testimoni serupa diutarakan oleh Dave Mami, seorang pembuat konten independen asal Kanada yang sudah menjelajahi 56 negara di dunia bersama istrinya. Pasangan ini kerap membawa peralatan kamera bernilai mahal, namun mereka tetap bisa berjalan dengan tenang di area perkotaan maupun pedesaan China.
Selain faktor keselamatan, Mami mengaku terpukau oleh integrasi teknologi yang masif di China. Warga lokal dikenal sangat responsif membantu turis yang kebingungan dengan mengoperasikan aplikasi penerjemah.
Dave dan istrinya kini bertransformasi menjadi pengguna setia aplikasi WeChat, terutama untuk memanfaatkan fitur pembayaran digital WeChat Pay dalam transaksi harian.
Penghormatan terhadap Ragam Budaya
Rasa nyaman dan terlindungi juga dirasakan oleh Ana Rosa Neumann Devers, mahasiswi asal Republik Dominika yang sedang menempuh studi di Harbin, Provinsi Heilongjiang. Di tengah suhu Harbin yang dingin, Devers merasa sangat aman saat berjalan kaki di pasar tradisional pada siang maupun malam hari.
Devers sempat mengenakan pakaian adat dari negara asalnya dalam sebuah acara di sekolah dan langsung disambut riuh tepuk tangan dari lingkungan sekitar.
"Orang-orang di sini menghormati budaya dan kebiasaan yang berbeda. Tidak ada yang memperlakukan saya berbeda karena saya berasal dari negara lain. Saya benar-benar merasa dihargai," jelas Devers.
Bessenger mengimbuhkan bahwa tiap provinsi di China memiliki karakteristik unik tersendiri. Bagi pelancong yang ingin merasakan sensasi nyata menjadi warga lokal, dia memberikan rekomendasi untuk keluar berjalan kaki pada waktu malam hari.
"Berjalan-jalanlah, cicipi jajanan kaki lima, dan lihat bagaimana orang-orang menikmati makanan mereka serta bagaimana kota ini memasuki ritme yang damai namun tetap hidup," ucap Bessenger.