Wisatawan Eropa Alihkan Rute Liburan ke China dan Tinggalkan Asia Tenggara

Wisatawan Eropa Alihkan Rute Liburan ke China dan Tinggalkan Asia Tenggara

Pergeseran rute liburan masyarakat Eropa yang kini memilih China sebagai destinasi alternatif membuat pariwisata Asia Tenggara mulai sepi peminat. Pembatasan penerbangan serta lonjakan harga tiket pesawat menjadi pemicu utama wisatawan Eropa mengalihkan tujuan wisata mereka.

Seperti dikutip dari Detik Travel, pakar penerbangan Li Hanming menjelaskan bahwa permintaan yang tinggi membuat penerbangan dari Eropa menuju China melonjak tajam. Wisatawan Eropa menilai China sebagai tujuan yang sangat menarik untuk musim panas ini, di saat penerbangan menuju Asia Tenggara masih mengalami pembatasan.

Para analis memaparkan bahwa rute penerbangan antara Eropa dan Asia Tenggara dulunya sangat padat. Namun, konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut membuat maskapai harus menghindari wilayah udara Iran karena dinilai terlalu berisiko.

Ketegangan regional tersebut juga memicu lonjakan harga bahan bakar jet global. Berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), harga bahan bakar jet telah menembus angka 181,22 dollar Amerika per 1 Mei.

Faktor lain yang menguntungkan Beijing adalah pelonggaran persyaratan visa bagi pelancong Eropa yang sudah diterapkan sejak tahun 2023. Di sisi lain, Rusia juga memblokir wilayah udaranya untuk beberapa maskapai Eropa dan Amerika Utara sejak tahun 2022 sebagai balasan atas sanksi Barat.

Perusahaan analisis data penerbangan Inggris, Official Airline Guide (OAG), memperkirakan situasi ini memberi keuntungan besar bagi maskapai Tiongkok pada rute Eropa. OAG melaporkan frekuensi penerbangan langsung China-Eropa akan meningkat pada bulan Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.

Maskapai Menambah Kapasitas Penerbangan

Lonjakan minat pelancong ini direspons oleh sejumlah maskapai dengan menambah ratusan jadwal penerbangan baru. Perusahaan penerbangan seperti Air France, Air Serbia, British Airways, hingga Turkish Airlines mulai memperkuat konektivitas rute Eropa-China.

Juru bicara Air France menegaskan komitmen perusahaan untuk meningkatkan frekuensi rute Shanghai-Paris. Jadwal yang semula tujuh penerbangan per minggu akan ditambah menjadi sepuluh penerbangan per minggu pada bulan September dan Oktober.

Langkah serupa diambil oleh KLM-Royal Dutch Airlines yang menambah frekuensi penerbangan menuju Beijing dan Shanghai dari Paris dan Amsterdam dengan total 29 penerbangan. Tingginya permintaan ini membuat maskapai tidak hanya menambah jadwal terbang, tetapi juga mengoperasikan pesawat dengan kapasitas penumpang yang lebih besar.

Artikel terkait

Rekomendasi