Xiaomi Alami Kerugian Operasional Rp7 Triliun Akibat Bisnis Mobil Listrik

Xiaomi Alami Kerugian Operasional Rp7 Triliun Akibat Bisnis Mobil Listrik

Perusahaan teknologi asal China, Xiaomi, harus menghadapi tantangan besar dalam ekspansi bisnis otomotif mereka. Seperti dikutip dari Suara, raksasa manufaktur ini membukukan kerugian operasional yang menembus angka Rp7 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.

Kondisi minus ini bersumber dari selisih biaya produksi dan harga jual kendaraan listrik mereka. Xiaomi dilaporkan mesti menanggung kerugian finansial berkisar Rp90 jutaan untuk setiap unit sedan SU7 maupun SUV YU7 yang dibawa pulang oleh konsumen.

Berdasarkan data dari laporan keuangan paling anyar, divisi smart EV dan AI milik Xiaomi sebenarnya mengumpulkan pendapatan yang menjanjikan. Sektor ini sukses meraup dana hingga 19,9 miliar yuan atau setara Rp45 triliun pada kuartal pertama 2026.

Namun, performa penjualan yang tinggi tersebut belum mampu menutup tingginya biaya operasional. Pada periode tiga bulan yang sama, sektor kendaraan listrik ini mencatatkan rugi operasional sebesar 3,1 billion yuan atau sekitar Rp7 triliun.

Jika dihitung secara rata-rata, manajemen harus merelakan kehilangan modal Rp90 jutaan per kendaraan yang diserahkan ke pembeli. Angka defisit ini membengkak drastis apabila disandingkan dengan catatan kuartal pertama tahun 2025.

Pada periode tahun lalu, tingkat kerugian per unit hanya berada di kisaran 900 dolar AS atau mendekati Rp14 jutaan. Faktor utama yang memicu pembengkakan ini adalah kebijakan korporasi yang menahan harga jual rata-rata di angka 235.000 yuan atau sekitar Rp534 jutaan demi memenangkan kompetisi pasar global.

Langkah taktis kini mulai diimplementasikan oleh manajemen demi mendongkrak margin keuntungan yang tergerus. Xiaomi menyiasatinya dengan meluncurkan jajaran kendaraan listrik kelas premium yang memiliki banderol jauh lebih mahal.

Satu di antara model andalan yang diperkenalkan adalah Xiaomi YU7 GT yang dibekali daya sebesar 990 hp dengan label harga Rp886 jutaan. Selain itu, korporasi juga menghadirkan SU7 Ultra yang dipasarkan sebagai varian performa tinggi seharga Rp1,2 miliar.

Kendati lini produk premium ini sudah resmi mengaspal, kedua varian mahal tersebut diprediksi tidak akan mendominasi volume penjualan total korporasi. Melalui situasi finansial yang menantang ini, Xiaomi dituntut merumuskan formula strategi baru agar lini bisnis otomotif mereka dapat segera membalikkan keadaan menjadi profit.

Artikel terkait

Rekomendasi