Xpeng Indonesia Ungkap Tantangan Hadirkan Mobil Terbang Secara Massal

Xpeng Indonesia Ungkap Tantangan Hadirkan Mobil Terbang Secara Massal

Imaginasi mengenai mobil terbang yang memenuhi langit masa depan hingga kini belum benar-benar terwujud secara massal. Padahal, sejumlah produsen otomotif global kini tengah gencar mengembangkan kendaraan masa depan tersebut.

Salah satu produsen asal China, Xpeng, bahkan membentuk divisi khusus bernama AeroHT untuk fokus memproduksi kendaraan udara ini. Produk mereka yang bernama Xpeng X2 bahkan sudah beberapa kali dipamerkan dalam ajang otomotif di Indonesia.

Kendati demikian, kendaraan masa depan ini belum bisa dipasarkan secara luas kepada masyarakat. Dilansir dari Detik Oto, menghadirkan mobil terbang sebagai moda transportasi massal menghadapi proses yang tidak mudah.

Chief Executive Officer (CEO) Xpeng Indonesia, Iki Wibowo, menjelaskan bahwa komersialisasi mobil terbang membutuhkan proses panjang. Pihaknya belum dapat memastikan kapan kendaraan ini bisa resmi mengudara di langit Indonesia.

"Mobil terbang kan ada road worthiness dan air worthiness, regulasi-regulasi itu lagi dipelajari semua. Kalau bisa fulfill regulasinya, why not? Tapi at the moment, kita masih di tahap pelajari terus," ujar Iki Wibowo di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Hingga saat ini, Xpeng Indonesia juga belum dapat memproyeksikan apakah mobil terbang bisa beroperasi dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan. Pasalnya, studi mendalam serta uji coba unit belum dilaksanakan di dalam negeri.

"Belum indept (studinya di Indonesia), karena kita belum bawa unit sample untuk dicoba. Jadi belum (dalam waktu dekat) sih," tuturnya.

Sistem Operasional Tetap Butuh Pengemudi

Meskipun dibekali dengan teknologi mutakhir, aspek operasional kendaraan ini tetap membutuhkan keterlibatan manusia. Pengemudi tetap harus bersiaga di balik kemudi untuk mengontrol jalannya mobil terbang.

"Saya juga dengar fiturnya bisa otonom, tapi dia kan arahnya nggak ke driverless. Tetap harus ada pengemudinya," ungkapnya.

Iki Wibowo menyamakan sistem ini dengan teknologi asisten berkendara yang sudah diterapkan pada mobil konvensional saat ini. Sistem otonom tetap memerlukan pengawasan aktif dari penggunanya selama perjalanan.

"Contoh kayak kita punya fitur Xpilot 4.0, otonom tapi kita tetap harus pegang setirnya. Kalau nggak dipegang, dia nggak kirim reminder. Just to make sure ada orang di situ," kata dia menambahkan.

Artikel terkait

Rekomendasi