Adira Finance Cermati Dinamika Pasar Sebelum Terbitkan Obligasi

Adira Finance Cermati Dinamika Pasar Sebelum Terbitkan Obligasi

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencermati dinamika pasar secara ketat sebelum melangsungkan penerbitan obligasi baru di Jakarta pada Rabu (3/6/2026). Langkah strategis ini diambil perusahaan untuk memitigasi fluktuasi tajam pada kondisi makro ekonomi saat ini.

Pertimbangan utama korporasi berfokus pada perubahan arah suku bunga acuan serta pergerakan yield obligasi di pasar modal. Dilansir dari Keuangan, kebijakan penentuan momentum penerbitan surat utang tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan internal perusahaan.

Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani memaparkan bahwa sentimen investor menjadi salah satu indikator penting yang terus dipantau oleh manajemen.

"Selain itu, mencermati juga sentimen investor terhadap kondisi makro ekonomi yang cukup bergerak tajam," ungkap Sylvanus Gani, Chief Financial Officer Adira Finance.

Keputusan eksekusi penawaran umum tersebut ke depan bakal mengandalkan momentum pasar yang dinilai paling optimal. Sylvanus Gani menegaskan instrumen obligasi tetap menjadi alternatif pendanaan krusial bagi industri pembiayaan.

"Saat itu, penerbitan obligasi masih dapat berjalan dengan baik, dengan tingkat bunga yang menurut kami masih cukup kompetitif dan minat investor yang tetap positif," tutur Sylvanus Gani, Chief Financial Officer Adira Finance.

Kondisi pasar obligasi untuk sektor multifinance tercatat masih kondusif setidaknya hingga Februari 2026. Keberhasilan pasar tersebut dibuktikan melalui realisasi penerbitan obligasi dan sukuk Adira Finance yang mencapai angka Rp 2,5 triliun.

Struktur pendanaan perusahaan saat ini telah terhubung dengan berbagai sumber yang terdiversifikasi demi menjaga stabilitas modal. Akses finansial tersebut mencakup pinjaman bank domestik maupun luar negeri, penerbitan surat utang, hingga sokongan penuh dari Bank Danamon dan MUFG selaku induk usaha.

Data dari Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan adanya pertumbuhan positif pada sektor ini secara nasional. Penerbitan surat utang industri multifinance menembus angka Rp 12,93 triliun per Mei 2026, atau mengalami kenaikan sebesar 19,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 10,84 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi