Airbus Bangun Pusat MRO dan Produksi Komponen di Kertajati

Airbus Bangun Pusat MRO dan Produksi Komponen di Kertajati

Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian PPN/Bappenas untuk mengembangkan pusat perawatan (MRO) dan manufaktur komponen pesawat di Kertajati, Jawa Barat, pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Ekonomi, kolaborasi ini bertujuan memperkuat ekosistem industri kedirgantaraan nasional hingga tahun 2045.

Presiden Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung kemajuan teknologi dan sumber daya manusia di Indonesia melalui penandatanganan kesepakatan tersebut.

“Kami melihat sebagai Airbus untuk berinvestasi selama 20 tahun, untuk meningkatkan kemampuan industri Indonesia di bidang teknologi, manufaktur, produksi pesawat, MRO, transfer pengetahuan, capacity building, dan pengembangan SDM,” ujarnya dalam Joint Declaration of Intent di Kantor Bappenas, Rabu (6/5/2026).

Stanley menambahkan bahwa saat ini Indonesia sudah berkontribusi sebagai pemasok komponen untuk berbagai tipe pesawat global milik Airbus. Melalui kemitraan teranyar dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Garuda Maintenance Facility (GMF), Airbus menargetkan peningkatan standar produksi lokal untuk komponen seri A220.

“Kami berharap Indonesia dapat turut memproduksi komponen A220 dan produk lainnya untuk mencapai standar global,” imbuhnya.

Proyeksi trafik penumpang udara di Indonesia diperkirakan tumbuh 7,4% per tahun, yang diprediksi mencapai 477 juta penumpang pada masa mendatang. Pertumbuhan ini memicu perkiraan peningkatan kebutuhan armada aktif dari 550 unit saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyebut Indonesia merupakan mitra krusial bagi Airbus karena 80% pesawat yang melayani penerbangan domestik didominasi oleh tipe A320. Ia menekankan pentingnya Indonesia terlibat dalam seluruh rantai pasok industri kedirgantaraan dunia.

“Karena dalam catatan saya ini, satu unit pesawat A320 saja misalnya membutuhkan 4 juta komponen dari 30 negara termasuk Indonesia,” tuturnya.

Pemerintah menargetkan penguatan kapasitas ini agar ketersediaan komponen dalam negeri menekan ketergantungan impor. Rachmat juga menyampaikan harapan khusus bagi PTDI untuk naik kelas menjadi pemasok utama dalam produksi bagian pesawat yang kompleks.

“Harapannya PTDI bisa menjadi tier 1 supplier bagi Airbus, yang artinya PTDI bisa mulai membuat sayap utuh A220 atau bahkan pesawat, yang nanti akan membangun pabrik di Kertajati,” lanjutnya.

Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti kondisi industri MRO nasional yang tengah menghadapi tantangan operasional dan biaya tinggi. Meski jumlah pesawat yang beroperasi menunjukkan tren penurunan, pemerintah tetap mendorong optimisme dalam melihat prospek jangka panjang industri ini.

“Namun demikian, seharusnya kita harus bisa lebih optimis, bahkan kita harus mempersiapkan diri agar bisa menyambut dan memanfaatkan sepenuhnya prospek cerah dari industri kedirgantaraan, termasuk MRO, untuk kepentingan merah putih,” tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi