Aliran Kali Anakan Blencong yang berlokasi di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, dilaporkan terputus total. Kondisi ini diduga kuat terjadi akibat tertimbun urukan lumpur dari proyek pembangunan Rusunawa Marunda.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Senin (11/5/2026), seperti dilansir dari Megapolitan, titik penyumbatan aliran tersebut berada di dekat jembatan Jalan Rumah Si Pitung. Lumpur tampak menutup akses air secara signifikan.
Pada sisi kiri jembatan, lebar aliran kali masih menyisakan ruang sekitar lima meter. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sisi kanan karena jalur yang seharusnya tersambung kini sudah tertutup rapat oleh material lumpur.
Di kawasan proyek Rusunawa Marunda, gundukan tanah serta tumpukan lumpur yang menyumbat aliran air hanya disekat menggunakan pagar bambu. Kondisi pagar pembatas tersebut pun terlihat sudah tidak tertata rapi.
Sisa air yang mengalir menuju sisi kiri jembatan tampak menyempit drastis hingga menyisakan kurang dari satu meter. Rimbunnya pepohonan di sekitar lokasi membuat aliran yang tersisa itu nyaris tidak terlihat oleh mata.
Meskipun kondisi kali tertutup, kegiatan pembangunan di lokasi tersebut tetap berjalan normal. Terpantau sedikitnya lima unit ekskavator berwarna kuning dan berbagai alat berat lainnya terus beroperasi di area proyek.
Ketua RT 07/RW 07 Marunda, Nesan, menyatakan keluhannya atas kondisi Kali Anakan Blencong yang tertimbun. Ia mengaku terkejut melihat area pengerjaan proyek meluas hingga menutupi jalur air yang krusial bagi warga.
"Posisi ketutupnya ya baru minggu-minggu ini. itu kan akses utama ke situ. Keluar masuknya air," katanya.
Nesan menjelaskan bahwa dirinya sudah meminta pihak dinas terkait dan kontraktor untuk memberikan perhatian lebih pada kondisi kali. Ia menyarankan agar dilakukan pengerukan di area yang ditumbuhi pohon agar air memiliki jalur alternatif.
"Makanya kemarin saya arahin, 'Jadi tuh kalau dari tumpukan lumpur ya, sebelah kanannya itu tuh ya kan, kan ada pohon-pohon itu, nah itu pohon dihabisin tuh, dikeruk. Jadi dia lewat ke pinggir, enggak mungkin di tengah jembatan lagi,' gitu," ungkapnya.
Seorang warga setempat, Akoy (45), berpendapat bahwa masalah ini muncul karena minimnya langkah mitigasi selama pengerjaan. Menurutnya, tidak ada upaya penurapan yang memadai untuk menahan pergeseran material ke arah sungai.
"Antisipasi diturap, ya kan, atau pakai bambu lah gitu. Nah ini kan langsung kedorong ke mana-mana," jelasnya.
Ketua Sub Kelompok Penyediaan Perumahan Dinas Perumahan DKI Jakarta, Akbar Rizali, memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut. Ia menyebutkan bahwa pengurukan elevasi tanah sebenarnya tidak direncanakan sampai menyentuh titik aliran kali.
"Untuk proses pengurukan elevasi tanah rusun tidak sampai titik aliran kali, ke depannya akan ada batas berupa turap," kata Akbar.
Akbar menambahkan bahwa peningkatan sedimentasi di kali terjadi secara tidak sengaja. Hal ini disebabkan oleh tekanan dari proses pemadatan tanah yang dilakukan untuk keperluan proyek rusun tersebut.
"Jadi sedimen lumpur eksisting pada kali tersebut naik karena terdesak dengan pemadatan urukan tanah kami," tambahnya.