PT Asuransi Allianz Life Indonesia mengantisipasi tingginya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan dengan menerapkan strategi diversifikasi portofolio berbasis fundamental guna menjaga stabilitas hasil investasi unitlink berbasis saham pada Senin (1/6/2026).
Langkah ini diambil karena fluktuasi pasar modal berpengaruh langsung terhadap kinerja produk investasi tersebut. Gejolak pasar membuat pergerakan Nilai Aktiva Bersih menjadi kurang stabil.
"Dalam kondisi pasar yang bergejolak, harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) cenderung mengalami fluktuasi yang lebih besar," ucap Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Pihak manajemen merespons situasi ini dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Pengelolaan dana dilakukan secara dinamis dan adaptif dengan menyesuaikan profil risiko dari setiap jenis fund yang dikelola.
"Hal itu dilakukan guna menjaga stabilitas hasil investasi dalam jangka menengah hingga panjang," ungkap Made.
Tekanan eksternal dan internal diprediksi masih membayangi pasar keuangan domestik hingga penghujung tahun. Ketegangan geopolitik global berisiko memicu lonjakan harga minyak serta inflasi, sementara dari dalam negeri terdapat tekanan akibat pelemahan kurs rupiah, kenaikan yield obligasi, dan rebalancing indeks MSCI.
"Dalam kondisi itu, pendekatan yang lebih berhati-hati menjadi penting, terutama pada instrumen dengan tingkat risiko lebih tinggi seperti unitlink berbasis saham," katanya.
Berdasarkan data Infovesta secara year to date hingga April 2026 yang dilansir dari Keuangan, rata-rata return unitlink berbasis saham mengalami kontraksi terdalam mencapai 4,75 persen.
Meski pasar tertekan, beberapa produk unitlink saham milik Allianz Life tetap mencatatkan imbal hasil positif per April 2026, seperti Smartwealth Dollar Asia Pacific Class B Fund dan Smartwealth Dollar Asia Pacific Fund yang mencetak return 17,78 persen, serta Smartwealth Dollar Equity Global Artificial Intelligence Fund sebesar 15,02 persen.