Allo Bank Evaluasi Suku Bunga Deposito Pascakenaikan BI Rate

Allo Bank Evaluasi Suku Bunga Deposito Pascakenaikan BI Rate

PT Allo Bank Indonesia Tbk memutuskan untuk tidak agresif meningkatkan suku bunga deposito meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Langkah penyesuaian baru akan diputuskan setelah bank digital ini merampungkan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi likuiditas serta keperluan pendanaan perseroan.

Kebijakan pengelolaan pendanaan dan strategi penentuan harga perusahaan memang sangat dipengaruhi oleh dinamika BI Rate sebagai salah satu indikator utama. Walau demikian, proses adaptasi besaran bunga simpanan dipastikan tidak bakal berjalan secara spontan maupun tergesa-gesa.

"Karena kami perlu mempertimbangkan berbagai aspek secara komprehensif, mulai dari kondisi likuiditas, struktur dana pihak ketiga (DPK), cost of fund, kompetisi industri, hingga dampaknya terhadap profitabilitas dan pertumbuhan bisnis jangka panjang," ujar Destya kepada Kontan.co.id, Jumat (22/5).

Kondisi pasar saat ini dimanfaatkan oleh Allo Bank untuk mengamati pergeseran perilaku nasabah serta kecukupan likuiditas sebelum mengambil keputusan jangka pendek. Prioritas manajemen saat ini tertuju pada pemeliharaan stabilitas antara tingkat kompetitif pendanaan, efisiensi biaya dana, dan kesinambungan margin bunga bersih.

Fleksibilitas penyesuaian bunga simpanan berjangka diklaim masih terbuka berkat ketersediaan likuiditas yang mumpuni pada industri perbankan nasional nasional saat ini, seperti dilansir dari Keuangan.

"Kalau pun nantinya ada penyesuaian, kami kemungkinan akan melakukannya secara sangat selektif, baik berdasarkan tenor maupun segmentasi nasabah, bukan kenaikan secara menyeluruh," jelasnya.

Tingkat imbal hasil deposito yang ditawarkan Allo Bank sekarang dinilai masih bersaing ketat dalam pasar bank digital, dengan batas atas menyentuh angka 7 persen hingga 7,5 persen bagi tenor tertentu. Di sisi lain, fungsi intermediasi perusahaan memperlihatkan performa positif lewat penyaluran kredit sebesar Rp9,14 triliun pada kuartal I-2026, atau melonjak hingga 32 persen secara tahunan.

Sikap penuh kehati-hatian juga diterapkan dalam menetapkan suku bunga pinjaman demi menjaga mutu kredit daripada sekadar memacu volume penyerapan pasar. Faktor pembentuk bunga kredit sendiri melingkupi biaya dana, tingkat risiko pemohon, hingga arsitektur portofolio pinjaman.

Manajemen kemudian mengarahkan fokus masa depan pada perbaikan struktur dana pihak ketiga, khususnya mendongkrak porsi dana murah, kendati kinerja penghimpunan deposito tetap mencatatkan kurva positif.

"Target pertumbuhan deposito tahun ini kami jaga tetap sehat dan terukur, sejalan dengan kebutuhan likuiditas dan rencana ekspansi kredit," imbuh Destya.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan, raihan total dana pihak ketiga milik Allo Bank berhasil merangkak naik 37 persen secara tahunan menuju angka Rp6,76 triliun. Pengumpulan dana masyarakat tersebut diakselerasi melalui pemanfaatan ekosistem transaksi, pendalaman keterikatan pengguna aktif, simplifikasi pendaftaran digital, serta penjualan silang produk keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi