PT Amartha Financial Group (Amartha) membukukan penyaluran pembiayaan sekitar Rp3 triliun sepanjang kuartal I-2026 untuk sektor produktif usaha mikro di pedesaan. Capaian sektor keuangan ini dilansir dari Keuangan pada Rabu (20/5/2026) di Jakarta.
Perusahaan teknologi keuangan tersebut mencatatkan rata-rata penyaluran dana berkisar antara Rp900 miliar hingga Rp1,1 triliun per bulan pada awal tahun ini. Amartha memfokuskan seluruh dana tersebut bagi para pelaku usaha mikro.
Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto memberikan rincian performa keuangan perusahaan dalam acara Asia Grassroots Forum 2026.
"Selama kuartal I-2026, total penyaluran pembiayaan kurang lebih sekitar Rp 3 triliun," ujar Aria Widyanto, Chief Compliance & Sustainability Officer, Amartha.
Kebutuhan modal pada segmen usaha mikro seperti pedagang pasar, warung, dan industri rumahan dinilai stabil karena bersentuhan langsung dengan konsumsi harian masyarakat. Aria Widyanto menambahkan bahwa daya beli di desa relatif bertahan dari tekanan makroekonomi, meski potensi kenaikan harga barang impor tetap diwaspadai.
"Kalau harga barang impor naik, nantinya harga barang juga ikut naik dan itu berpotensi mengurangi daya beli masyarakat di desa," kata Aria Widyanto, Chief Compliance & Sustainability Officer, Amartha.
Pihak manajemen memilih langkah moderat dengan menargetkan pertumbuhan pembiayaan hingga 20% pada tahun ini demi menjaga kualitas kredit. Amartha juga menerapkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk credit scoring serta mengoptimalkan pendampingan literasi digital nasabah melalui petugas lapangan.