PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatatkan penyaluran pembiayaan produktif mencapai lebih dari Rp47 triliun hingga akhir Mei 2026 yang didominasi oleh pelaku usaha di luar Pulau Jawa. Dana tersebut disalurkan kepada 4 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh wilayah Indonesia.
Porsi penyaluran modal usaha oleh perusahaan finansial teknologi berbasis peer to peer lending ini didominasi oleh wilayah luar Pulau Jawa sebesar 70 persen, sedangkan sisanya sebesar 30 persen terpusat di Pulau Jawa, sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra memaparkan rincian sebaran wilayah cakupan permodalan tersebut saat ditemui dalam acara Asia Grassroots Forum 2026 di Jakarta Pusat pada Kamis (4/6/2026).
"Sebesar 70% di luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Bali. Sisanya, 30% di Pulau Jawa," ungkap Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha.
Besarnya populasi dan tingginya permintaan modal usaha menjadi alasan utama perusahaan lebih memprioritaskan ekspansi pasar ke wilayah di luar Pulau Jawa.
"Populasinya lebih besar (luar Jawa), lalu memang sudah banyak pemain di Pulau Jawa juga. Jadi, hal itu cuma masalah fokus dan prioritas saja. Kami juga memberikan kesempatan yang lebih luas untuk ekonomi di luar Jawa," tutur Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha.
Langkah strategis ke depan akan difokuskan pada pengoptimalan pangsa pasar yang ada di seluruh wilayah operasional demi mendongkrak kinerja pertumbuhan bisnis perusahaan secara berkelanjutan.
"Kami perbesar lagi. Kami tetap optimistis melihat ke depan. Amartha juga cukup merata jangkauannya di berbagai daerah sejauh ini. Jadi, kami juga bisa melihat fokus untuk pengembangan bisnis," kata Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha.
Berdasarkan data resmi dari laman resmi perusahaan, tingkat Keberhasilan Bayar dalam 90 hari (TKB90) yang dibukukan oleh fintech Amartha berada di posisi 95,14 persen per 5 Juni 2026.