Sejumlah analis pasar modal merekomendasikan investor untuk mulai mengoleksi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) secara bertahap pada Kamis (4/6/2026). Langkah akumulasi ini disarankan di tengah kemerosotan harga kedua saham perbankan besar tersebut hingga menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir akibat tekanan aksi jual investor asing.
Pelemahan tajam saham-saham berkapitalisasi besar ini berjalan beriringan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,70 persen ke posisi 5.839,78 pada penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir Kompas.com, tercatat 623 saham melemah dengan nilai transaksi pasar mencapai Rp25,33 triliun.
Hingga akhir perdagangan tersebut, harga saham BBCA terkoreksi 1,81 persen menjadi Rp5.425 per saham, sementara saham BBRI turun 3,10 persen ke level Rp2.810 per saham. Sepanjang tahun 2026 berjalan, akumulasi aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing telah mencapai Rp31,34 triliun pada saham BBCA dan Rp9,57 triliun pada saham BBRI.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen serta depresiasi nilai tukar rupiah dinilai menjadi pemicu utama hengkangnya modal asing dari sektor perbankan. Kendati demikian, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa fundamental keuangan dari emiten-emiten perbankan tersebut sebenarnya masih berada dalam kondisi yang solid.
"Kinerja empat bank besar sejauh ini masih solid pada empat bulan pertama 2026. BBCA dan BBRI juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih," ujar Nafan.
Nafan menilai fluktuasi pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi domestik, khususnya pelemahan kurs mata uang yang mendorong pembalikan modal luar negeri dari bursa saham.
"Sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makro domestik. Pelemahan kurs rupiah dapat memicu aksi offload investor asing," kata Nafan.
Melalui analisis tersebut, Nafan menetapkan target harga jangka panjang untuk saham BBCA pada level Rp8.375 dan saham BBRI pada target Rp3.670 per lembar saham. Di sisi lain, Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo memproyeksikan saham BBCA berpotensi menuju rentang harga Rp5.875 hingga Rp5.900 jika mampu bertahan di atas level support Rp5.300, sementara titik support saham BBRI diperkirakan berada pada posisi Rp2.780 dengan target rebound jangka pendek di level Rp3.070 per saham.