Menentukan saham yang layak dikoleksi untuk jangka panjang memerlukan pemahaman mendalam mengenai kinerja internal perusahaan di pasar modal. Metode analisis fundamental berfokus pada evaluasi kondisi ekonomi, keuangan, dan faktor kualitatif guna menentukan nilai intrinsik sebuah saham.
Metode ini dilakukan dengan cara mendalami data laporan keuangan serta kondisi ekonomi makro, seperti dilansir dari Personalfinance. Tujuannya untuk mengetahui apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan nilai wajar atau masih berada di bawah nilai sebenarnya (undervalued).
Investor yang menggunakan pendekatan fundamental biasanya akan membedah dua aspek utama. Faktor pertama adalah aspek kualitatif yang mencakup tata kelola perusahaan (good corporate governance), model bisnis, keunggulan kompetitif, hingga kualitas manajemen.
Aspek kedua adalah faktor kuantitatif yang bersumber dari laporan keuangan berkala perusahaan. Analisis kuantitatif ini melibatkan pemeriksaan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas secara berkala.
Melalui data tersebut, investor dapat mengukur tingkat efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan dalam periode tertentu. Investor juga kerap menggunakan rasio keuangan untuk memudahkan perbandingan antar-perusahaan dalam sektor yang sama.
Terdapat enam rasio populer yang sering menjadi acuan bagi investor di pasar modal. Berikut adalah rincian rumus matematika sederhana dan contoh perhitungannya:
1. Earnings Per Share (EPS)
EPS menunjukkan laba bersih yang dihasilkan untuk setiap lembar saham yang beredar.
Rumus: Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar
Contoh: Perusahaan A membukukan laba bersih Rp 1 triliun dengan jumlah saham beredar 5 miliar lembar. Perhitungannya adalah Rp 1 triliun / 5 miliar = Rp 200 per saham.
2. Price to Earnings Ratio (PER)
Rasio ini membandingkan harga saham dengan laba per lembar saham untuk melihat kewajaran harga.
Rumus: Harga Saham / EPS
Contoh: Jika harga saham Perusahaan A saat ini Rp 3.000 dan EPS-nya Rp 200, maka perhitungannya 3.000 / 200 = 15 kali.
3. Price to Book Value (PBV)
PBV membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku atau ekuitas per lembar saham.
Rumus: Harga Saham / Nilai Buku Per Saham
Contoh: Perusahaan B memiliki nilai buku per saham Rp 1.000 dengan harga pasar Rp 1.500. Perhitungannya adalah 1.500 / 1.000 = 1,5 kali.
4. Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat utang perusahaan terhadap modal sendiri.
Rumus: Total Liabilitas (Utang) / Total Ekuitas (Modal)
Contoh: Perusahaan C memiliki utang Rp 500 miIiar dan modal Rp 1 triliun. Perhitungannya adalah 500 miliar / 1 triliun = 0,5 atau 50%.
5. Return on Equity (ROE)
ROE mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.
Rumus: (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%
Contoh: Dengan modal Rp 1 triliun, Perusahaan D mencetak laba bersih Rp 200 miliar. Perhitungannya adalah (200 miIiar / 1 triliun) x 100% = 20%.
6. Dividend Yield
Persentase ini menunjukkan keuntungan tunai yang didapat investor dari pembagian dividen dibandingkan harga saham.
Rumus: (Dividen Per Saham / Harga Saham) x 100%
Contoh: Perusahaan E membagikan dividen Rp 100 per saham, sementara harganya Rp 2.500. Perhitungannya adalah (100 / 2.500) x 100% = 4%.
Perbedaan dengan Analisis Teknikal
Perbedaan mendasar antara analisis fundamental dan teknikal terletak pada sumber data serta jangka waktu investasinya. Analisis teknikal lebih banyak menggunakan grafik harga dan volume perdagangan masa lalu untuk memprediksi pergerakan jangka pendek.
Sebaliknya, analisis fundamental melihat ke dalam kondisi internal perusahaan untuk kepentingan investasi jangka menengah hingga panjang. Analisis fundamental membantu memutuskan saham apa yang harus dibeli, sedangkan analisis teknikal menentukan kapan waktu eksekusinya.
Melakukan analisis fundamental secara rutin dapat membantu investor menghindari jebakan emosi saat pasar sedang fluktuatif. Investor cenderung lebih tenang saat harga pasar mengalami koreksi selama fundamental perusahaan tetap solid.