Anggota DPRD Jember, Achmad Syahri Assidiqi, menuai sorotan publik setelah kedapatan bermain game online sambil merokok saat berlangsungnya rapat dengar pendapat (RDP) mengenai isu kesehatan di ruang Badan Musyawarah DPRD Jember pada Senin (11/5/2026).
Aksi Syahri tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian tersebar luas di media sosial dan mengundang berbagai kritikan tajam dari warganet. Dilansir dari Kompas, agenda rapat tersebut sebenarnya membahas isu-isu krusial seperti penanganan stunting, penyakit campak, Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI/AKB), hingga program Universal Health Coverage (UHC).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah instansi penting, termasuk Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Selain itu, hadir pula perwakilan dari BPJS Kesehatan Jember dan delegasi dari 15 puskesmas di wilayah tersebut.
Achmad Syahri Assidiqi merupakan politisi dari Partai Gerindra yang lahir di Jember pada 21 Juni 1999 dan tercatat sebagai anggota DPRD Jember periode 2024-2029 termuda. Ia merupakan putra dari mantan anggota DPR RI, Fadil Muzakki Syah, dan terpilih mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) 6 yang mencakup wilayah Kencong, Jombang, Gumukmas, dan Puger.
Selain mengenai kinerjanya, data harta kekayaan Syahri juga menjadi informasi publik melalui catatan resmi negara. Berdasarkan laporan e-LHKPN pada Rabu (13/5/2026), total kekayaan yang dimiliki oleh legislator berusia 26 tahun tersebut mencapai Rp 3,4 miliar.
Mayoritas aset kekayaan Syahri tersimpan dalam bentuk properti yang seluruhnya berlokasi di Kabupaten Jember dengan total nilai mencapai Rp 2,95 miliar. Rincian aset tersebut mencakup tiga bidang tanah luas yang tercatat sebagai hasil perolehan sendiri.
| Jenis Aset | Luas Tanah | Lokasi | Nilai Aset |
|---|---|---|---|
| Tanah | 2.888 meter persegi | Jember | Rp 908,5 juta |
| Tanah | 4.260 meter persegi | Jember | Rp 1,33 miliar |
| Tanah | 2.237 meter persegi | Jember | Rp 712,26 juta |
Hingga saat ini, rekaman video yang memperlihatkan tindakan kurang patut di tengah rapat resmi tersebut masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Jawa Timur.