Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada Kuartal I 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik, namun pencapaian tertinggi sejak 2012 ini diikuti pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp 17.400 per dollar AS pada Senin (4/5/2026). Dilansir dari Money, kondisi tersebut memicu keraguan pelaku pasar terhadap ketangguhan fondasi ekonomi domestik.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengidentifikasi sejumlah kejanggalan dalam data pertumbuhan tersebut yang membuat investor tidak sepenuhnya memberikan kepercayaan pada angka rilis pemerintah. Menurutnya, pertumbuhan yang kuat seharusnya selaras dengan penguatan mata uang.
“Pergerakan rupiah yang negatif (melemah) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita rapuh sehingga tidak dipercaya investor,” ujar Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Celios.
Kesenjangan antara data pertumbuhan dan realitas pasar valuta asing dinilai mencerminkan kehati-hatian pemodal internasional dalam menanamkan modal di Indonesia. Aliran modal justru cenderung keluar meski data makro menunjukkan tren positif.
“Tahun lalu, ketika (ekonomi) dikabarkan naik tajam di Kuartal II dan IV, dianggap tidak mencerminkan kenaikan ekonomi Indonesia. Maka meskipun Kuartal I 2026 naik hingga 5,61 persen, investor melihat indikator lainnya sebelum melakukan investasi, terutama investor dari luar. Sehingga dorongan untuk capital inflow itu cenderung kurang, bahkan ada capital outflow,” jelas Nailul Huda.
Huda menambahkan bahwa saat ini permintaan dollar AS meningkat karena investor domestik mulai mengonversi rupiah demi keamanan aset di tengah ketidakpastian. Langkah Bank Indonesia membatasi pembelian valuta asing tanpa underlying turut menjadi sinyal adanya tekanan pada permintaan mata uang asing tersebut.
“Ini yang menyebabkan permintaan dollar meningkat, rupiah semakin melemah. Ditambah lagi pertumbuhan ekonomi saat ini dibayangi akan gagal bayar dan government shutdown. Jadi semakin rapuh,” ungkap Nailul Huda.
Kecurigaan mengenai keabsahan data pertumbuhan 5,61 persen diperkuat dengan indikator lain yang tidak saling mendukung. Jika pertumbuhan benar-benar kokoh, pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak akan sedalam yang terjadi saat ini.
“Jikalau ekonomi dikatakan kuat, pertumbuhan ekonomi benar 5,61 persen, nampaknya tidak akan terjadi pelemahan rupiah,” imbuh Nailul Huda.
Anomali pertama ditemukan pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen saat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) justru merosot dari 127 basis poin pada Januari 2026 menjadi 122,9 pada Maret 2026. Pertumbuhan konsumsi pakaian dan alas kaki juga melambat meskipun bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri.
“Tahun lalu juga mengalami penurunan serupa meskipun lebih tajam. Biasanya, IKK ini mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga, namun menurut data BPS, ternyata tidak,” ucap Nailul Huda.
Kejanggalan kedua muncul pada sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 6,91 persen, namun tidak didukung oleh pertumbuhan jasa transportasi dan pergudangan yang justru melambat ke angka 8,04 persen. Sektor informasi dan komunikasi juga mengalami perlambatan pada periode yang sama.
“Begitu pula dengan jasa informasi dan komunikasi yang mengalami perlambatan di periode yang sama. Anomali di sektor ini sangat terasa ketika konsumsi kita tidak ditopang oleh jasa terkait,” ucap Nailul Huda.
Pada komponen investasi, kenaikan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kendaraan dianggap tidak sejalan dengan industri alat angkutan yang terkontraksi 5,02 persen. Terakhir, sektor industri pengolahan yang menyumbang 19 persen PDB justru melambat pertumbuhannya menjadi 5,04 persen.
“Anomali pertumbuhan industri yang jauh melambat, namun pertumbuhan ekonomi justru sangat tinggi. Padahal, kontribusi dari sektor industri pengolahan mencapai 19 persen,” tukas Nailul Huda.