Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan bahwa nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan signifikan bagi dunia usaha pada Rabu (13/5/2026). Dampak terbesar dirasakan oleh sektor manufaktur nasional yang masih bergantung pada pasokan bahan baku impor untuk kegiatan produksi.
Dilansir dari Money, pelemahan mata uang ini dipicu oleh dinamika global, termasuk kenaikan yield US Treasury dan konflik geopolitik yang mengalihkan modal ke aset dollar AS. Kondisi ini menjadi guncangan eksternal yang memperburuk struktur biaya dan mengganggu likuiditas arus kas korporasi.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan bahwa faktor global menjadi penentu utama tren negatif nilai tukar saat ini.
"Tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," ujar Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Umum Apindo.
Ketergantungan industri dalam negeri terhadap barang luar negeri sangat tinggi, di mana sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih berasal dari impor. Data Apindo menunjukkan kontribusi komponen impor tersebut mencapai 55 persen dari total seluruh struktur biaya produksi industri.
Shinta menegaskan bahwa kenaikan harga bahan baku seperti nafta pada industri plastik telah mengerek harga resin hingga puluhan persen dan berdampak sistemik ke sektor hilir.
"Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang memiliki efek transmisi luas ke seluruh rantai pasok," katanya.
Sektor-sektor yang paling terdampak meliputi industri petrokimia, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi. Selain beban produksi, penguatan mata uang Paman Sam juga memperberat kewajiban utang luar negeri perusahaan, baik untuk pembayaran bunga maupun pokok utang.
Meskipun beban operasional meningkat, para pelaku usaha menghadapi keterbatasan untuk menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Hal ini memaksa perusahaan menanggung sebagian kenaikan biaya yang berujung pada penyusutan margin keuntungan.
Shinta menyampaikan bahwa situasi ketidakpastian ini membuat pengusaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan strategis terkait perluasan bisnis.
"Investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda," ungkap Shinta.
Untuk menghadapi volatilitas, dunia usaha kini mengandalkan strategi lindung nilai atau hedging, efisiensi operasional, hingga mencari pemasok alternatif lokal. Namun, Apindo menilai kemampuan substitusi bahan baku dari dalam negeri masih sangat terbatas di banyak sektor industri.