Kondisi ekonomi yang tengah tertekan tidak menyurutkan minat masyarakat untuk berkunjung ke pusat perbelanjaan. Kendati demikian, terjadi pergeseran perilaku konsumen yang kini lebih memprioritaskan barang-barang dengan harga yang lebih terjangkau.
Seperti dilansir dari Detik Finance, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan secara nasional saat ini masih berada di angka yang relatif stabil. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), okupansi mal berada di kisaran 85% hingga 90%, walaupun jumlah tersebut belum sepenuhnya pulih seperti masa sebelum pandemi.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya tetap meramaikan pusat perbelanjaan, namun ada perubahan signifikan pada cara mereka membelanjakan uang.
"Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja. Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Begitu kan sudah ada satu dua tahun terakhir ini kan tren belanjanya berubah begitu, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya unit price-nya itu kan murah, kecil begitu," ujar Alphonzus saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Menurut pengamatan APPBI, fenomena beralihnya pilihan ke varian harga yang lebih murah ini terjadi pada seluruh kategori produk. Situasi pengetatan anggaran belanja konsumen tersebut dinilai turut memicu peningkatan minat masyarakat terhadap barang-barang impor ilegal di pasaran.
"Jadi sebetulnya semuanya dibeli tetapi harga satuannya produk unit price harga unit price-nya yang murah begitu," tutur Alphonzus.