AS dan Iran Gagal Sepakati Pembukaan Selat Hormuz

AS dan Iran Gagal Sepakati Pembukaan Selat Hormuz

Amerika Serikat dan Iran belum berhasil mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak mentah dunia. Kondisi jalur pelayaran internasional di Teluk Persia tersebut saat ini dilaporkan nyaris lumpuh.

Krisis di Selat Hormuz ini dipicu oleh ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas, sehingga mendorong lonjakan harga energi global, dilansir dari Money. Sebagai respons, Washington memperketat blokade terhadap ekspor minyak Iran untuk menekan ekonomi negara tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan keamanan navigasi baru akan dipulihkan setelah situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali stabil. Namun, pihak Teheran menyatakan tetap ingin mempertahankan kendali tertentu di jalur strategis tersebut.

"Secara alami, ketika kondisi ketidakamanan saat ini selesai, navigasi di Selat Hormuz akan kembali normal," ujar Pezeshkian seperti dikutip kantor berita Mehr.

Pemerintah Iran berencana menerapkan mekanisme pengawasan serta kontrol yang efektif sesuai hukum internasional. Di samping itu, pembahasan mengenai cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi antara Iran dan AS juga diputuskan untuk ditunda.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi turut mendesak pembukaan kembali selat tersebut, di tengah upaya pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini untuk menunjukkan kesamaan sikap di Timur Tengah.

"Saya akan membuat keputusan dalam beberapa hari ke depan," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat membahas peluang pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak mentah Iran. Sebelum sanksi dicabut, AS terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap perusahaan Beijing yang mengabaikan larangan tersebut.

Ketidakpastian situasi membuat harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 50 persen semenjak perang pecah. Pergerakan kapal tanker kembali melambat karena para pemilik kapal bersikap sangat hati-hati terhadap risiko keamanan.

"Negosiasi mengalami kebuntuan, kekerasan masih terjadi secara sporadis, dan biaya ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz terus meningkat," tulis analis pertahanan Bloomberg Economics, Becca Wasser.

Wasser menilai ancaman konflik terbuka masih tetap besar karena belum adanya kesepakatan nyata. Untuk meredakan ketegangan, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi telah bertemu pejabat Iran di Teheran guna memediasi kelanjutan negosiasi damai AS-Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi