PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) membukukan perolehan premi sebesar Rp1,16 triliun pada Maret 2026 atau tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan (YoY). Capaian positif perusahaan milik negara tersebut dipicu oleh kenaikan signifikan pada sektor asuransi umum yang melonjak hingga 44 persen.
Dilansir dari Finansial, pertumbuhan bisnis ini berbanding lurus dengan peningkatan laba perusahaan yang naik sebesar 77 persen YoY di tengah dinamika industri asuransi. Informasi tersebut disampaikan dalam acara Media Gathering Askrindo di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis, 7 Mei 2026.
Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso menyatakan bahwa momentum bisnis perusahaan saat ini tetap terjaga dengan baik.
"Sejalan dengan itu, laba Perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 77% YoY, menunjukkan momentum bisnis yang tetap terjaga di tengah dinamika industri," katanya dalam Media Gathering Askrindo di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026).
Pihak manajemen menekankan pentingnya disiplin risiko untuk memastikan ekspansi bisnis tetap berkualitas. Mahelan menyebutkan bahwa meskipun rasio klaim industri relatif tinggi, hal itu merupakan bukti peran strategis asuransi dalam menyerap risiko pembiayaan bagi sektor UMKM.
"Kami membangun pendekatan mitigasi risiko secara end-to-end, dengan mengoptimalkan pemanfaatan data dan teknologi dalam underwriting, memperkuat kolaborasi dengan mitra perbankan, serta meningkatkan efektivitas proses klaim dan recovery," ujarnya.
Langkah mitigasi ini dirancang agar perusahaan dapat menangkap peluang pertumbuhan secara lebih terukur. Dalam mendukung sektor produktif, Askrindo mencatat akumulasi nilai pertanggungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak 2007 hingga kuartal I/2026 telah menembus Rp810,3 triliun bagi 36,8 juta debitur.
"Partisipasi aktif kami dalam program KUR merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung inklusi keuangan dan penguatan sektor UMKM. Dengan skala yang terus bertumbuh, kami memastikan pengelolaan risiko tetap dilakukan secara prudent agar manfaat program ini dapat dirasakan secara berkelanjutan," tutur Mahelan.
Strategi keberlanjutan perusahaan juga mencakup diversifikasi portofolio melalui penguatan penugasan pemerintah, pengembangan segmen BUMN dan korporasi, hingga ekspansi ke bisnis ritel seperti asuransi mikro dan kendaraan bermotor.
"Langkah tersebut, ujarnya, merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar di berbagai segmen."
Meninjau kinerja tahun sebelumnya, laporan keuangan unaudited 2025 menunjukkan ekuitas konsolidasi Askrindo berada pada angka Rp9,4 triliun dengan total aset mencapai Rp32,9 triliun. Pencapaian ini diklaim sebagai hasil dari penguatan tata kelola dan kualitas underwriting secara konsisten.
"Kami melihat bahwa kinerja 2025 bukan sekadar pertumbuhan angka, tetapi hasil dari fondasi yang kami bangun secara konsisten, khususnya dalam penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kualitas underwriting. Ini yang menjadi kunci keberlanjutan bisnis kami ke depan," ucap Mahelan.
Memasuki sisa tahun 2026, Askrindo memproyeksikan industri asuransi kredit tetap cerah mengikuti target pertumbuhan kredit perbankan di level 8-12 persen. Fokus utama perusahaan tetap pada peningkatan kualitas portofolio dibandingkan sekadar mengejar volume pasar.
"Kami optimis terhadap peluang pertumbuhan di 2026, terutama dengan meningkatnya kebutuhan mitigasi risiko di berbagai sektor. Namun kuncinya tetap pada satu hal yaitu tumbuh dengan kualitas, bukan hanya mengejar volume," tutupnya.