Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat instrumen Surat Berharga Negara mendominasi penempatan investasi industri asuransi jiwa senilai Rp248,03 triliun pada kuartal I-2026. Dominasi portofolio ini disampaikan dalam konferensi pers AAJI di Jakarta Selatan pada Selasa (2/6/2026), sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Nilai investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 15,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Instrumen SBN kini memegang porsi kontribusi terbesar, yakni mencapai 43,4 persen dari total keseluruhan investasi industri asuransi jiwa.
"Nilainya meningkat 15,8%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ungkap Handojo Kusuma, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI.
Porsi penempatan dana di SBN ini tercatat mengalami kenaikan dari kuartal I-2025 yang saat itu berada di angka 39,6 persen. Total penempatan investasi asuransi jiwa secara keseluruhan pada kuartal I-2026 sendiri mencapai Rp571,70 triliun, atau tumbuh sebesar 5,7 persen secara tahunan.
"Nilainya meningkat 15,8%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ungkap Handojo Kusuma, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI.
Manajemen industri menegaskan bahwa pemilihan SBN sebagai instrumen utama dilakukan untuk menjaga keamanan dana nasabah sekaligus memastikan pengelolaan risiko tetap sehat. Selain SBN, industri asuransi jiwa juga membagi penempatan dana ke berbagai instrumen lain demi menjaga stabilitas aset di tengah dinamika pasar keuangan.
"Dengan demikian, industri tetap memiliki fleksibilitas dan ketahanan dalam pengelolaan asetnya," ucap Handojo Kusuma, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI.
Instrumen saham menjadi pilihan terbesar kedua dengan nilai Rp112,64 triliun atau menyumbang 19,7 persen dari total investasi, meskipun angka ini menurun 5,9 persen secara tahunan. Selanjutnya, reksadana menempati urutan ketiga dengan nilai Rp72,45 triliun setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,2 persen.
Posisi keempat ditempati oleh instrumen sukuk korporasi yang naik 3,4 persen menjadi Rp53,43 triliun dengan kontribusi sebesar 9,3 persen. Sementara itu, deposito berada di peringkat kelima dengan nilai Rp33,32 triliun, mengalami penurunan sebesar 8,6 persen dibandingkan kuartal I-2025.
Sisa dana investasi lainnya ditempatkan pada instrumen penyertaan langsung, bangunan dan tanah, serta beberapa instrumen lainnya. Pihak asosiasi menyatakan bahwa naik turunnya nilai instrumen dalam jangka pendek merupakan hal yang lumrah terjadi dalam aktivitas investasi di pasar modal.