Biaya asuransi pengiriman barang melalui Selat Hormuz mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 10 persen dari nilai kargo akibat kondisi keamanan yang tidak stabil pasca pecahnya perang Iran. Lonjakan premi asuransi risiko perang ini terus membayangi industri pelayaran global meski sejumlah upaya diplomasi mulai berjalan.
Ed Anderson, profesor manajemen rantai pasok dari University of Texas, menyatakan bahwa tarif premi yang sebelumnya berada di bawah 1 persen kini melonjak tajam ke rentang 3 persen hingga 10 persen. Kenaikan beban biaya ini dipicu oleh tingginya ancaman serangan terhadap kapal-kapal komersial yang nekat melintas.
"Mengangkut beberapa kapal sebenarnya tidak memengaruhi industri pelayaran sama sekali," kata Anderson.
Anderson menilai para pelaku industri tetap memandang kawasan tersebut sangat berbahaya bagi aktivitas logistik. Dilansir dari Money, ketidakpastian di jalur vital tersebut sempat diperumit oleh pengumuman Operasi Project Freedom oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (4/5/2026).
Operasi militer tersebut sedianya ditujukan untuk memandu kapal keluar dari area konflik, namun Trump memilih menghentikan misi itu dua hari kemudian guna memberikan ruang bagi proses diplomasi. Meskipun terdapat jeda dalam kontak senjata, ancaman fisik berupa penggunaan drone dan kapal cepat oleh militer Iran dilaporkan masih mengintai operator kapal.
Pengacara maritim dari Holland & Knight, Sean Pribyl, menegaskan faktor keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan pelayaran saat ini. Hal ini menyusul adanya laporan kerusakan kapal kontainer milik CMA CGM Group akibat serangan di jalur tersebut.
"Pada akhirnya, semuanya akan kembali pada isu utama risiko dan keselamatan," kata Sean Pribyl, pengacara maritim Holland & Knight di Washington DC.
Pribyl memperkirakan bahwa normalisasi navigasi dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih belum akan terjadi dalam waktu dekat. Kesulitan akses ini menyebabkan hambatan besar pada arus distribusi barang dunia secara sistematis.
"Sepertinya kita belum mendekati kondisi lalu lintas dan navigasi yang lancar melalui selat tersebut," lanjut dia.
Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan penurunan drastis volume lalu lintas harian dari semula 100-135 kapal menjadi sangat terbatas. Iran kini memberlakukan aturan ketat berupa pemeriksaan muatan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta kewajiban bagi kapal untuk melintas di dekat pesisir mereka.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, mengungkapkan terdapat lebih dari 1.550 unit kapal yang tertahan di kawasan Teluk Persia. Penahanan ini berdampak pada nasib sekitar 22.500 pelaut serta menghambat pengiriman komoditas strategis seperti minyak mentah dan produk energi.
Dampak finansial juga dirasakan langsung oleh raksasa pelayaran Jerman, Hapag Lloyd AG, yang mencatat kerugian operasional sekitar 60 juta dollar AS atau setara Rp1,04 triliun per pekan. Perusahaan yang memiliki total 301 kapal ini mengonfirmasi empat armadanya masih terjebak di dalam Teluk Persia.
"Namun, pilihan-pilihan ini terbatas kapasitasnya dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan rute maritim reguler melalui wilayah tersebut," tulis perusahaan.
Pernyataan tersebut merujuk pada upaya perusahaan dalam mengalihkan sebagian logistik melalui jalur darat yang kapasitasnya tidak memadai. Di sisi lain, Maersk mengonfirmasi kapal Alliance Fairfax berhasil keluar dengan selamat dari wilayah konflik berkat bantuan pengawalan militer Amerika Serikat.
"Transit selesai tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat dan tidak terluka," kata Maersk.
Kaho Yu, analis energi dari Verisk Maplecroft, berpendapat bahwa pemulihan pasar energi dan aktivitas pelayaran tidak akan berlangsung instan. Kepercayaan para pelaku usaha, termasuk pemilik penyulingan minyak dan pedagang komoditas, masih sangat rendah terhadap stabilitas keamanan di kawasan.
"Bahkan dengan keterlibatan diplomatik yang berlanjut, pasar energi kemungkinan tidak akan cepat kembali ke asumsi pra-krisis," kata Yu.
Pandangan serupa disampaikan oleh Razat Gaurav, CEO Kinaxis, yang menekankan pentingnya stabilitas jangka panjang. Perusahaan asuransi dan pengirim barang memerlukan jaminan nyata sebelum mereka bersedia mengembalikan kapasitas operasional secara penuh di jalur tersebut.
"Bahkan ketika kondisi membaik, operator, perusahaan asuransi, dan pengirim barang membutuhkan keyakinan bahwa stabilitas akan bertahan sebelum kapasitas dan rute sepenuhnya normal," ujar Gaurav.