PT Bahana TCW Investment Management menargetkan peluncuran produk investasi Exchange Traded Fund atau ETF emas berbasis mata uang rupiah terlaksana pada kuartal III-2026. Rencana penerbitan instrumen baru ini didorong oleh tingginya antusiasme pasar domestik terhadap produk investasi berbasis komoditas, seperti dilansir dari Investasi pada Jumat (22/5/2026).
Persiapan mendasar dan finalisasi tahapan saat ini sedang digarap oleh perusahaan bersama para mitra strategis. Guna memastikan produk selaras dengan regulasi, kolaborasi intensif dilakukan dengan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Penguatan infrastruktur teknologi dan kesiapan operasional internal juga telah ditingkatkan demi menjamin transaksi yang aman dan efisien.
Plt. Presiden Direktur Bahana TCW, Danica Adhitama menjelaskan bahwa perusahaan berkomitmen penuh untuk menghadirkan instrumen investasi yang kredibel serta inovatif bagi masyarakat luas.
"Kami mengestimasi produk ETF emas ini dapat resmi diluncurkan dan mulai diperdagangkan pada kuartal III tahun 2026," ujar Danica kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Langkah peluncuran produk baru ini diharapkan mampu mempermudah akses investasi bagi para pemodal di dalam negeri. Fasilitas tersebut dirancang agar dapat menjangkau seluruh lapisan pasar investasi, baik untuk kategori investor ritel maupun kelompok institusi.
"Untuk memberikan kemudahan akses, fleksibilitas, serta kenyamanan optimal bagi investor domestik, baik ritel maupun institusi, produk ETF emas yang akan Bahana TCW terbitkan ini nantinya akan dipasarkan dalam denominasi rupiah," tambah Danica.
Otoritas bursa sendiri mencatat ada sembilan manajer investasi yang bersiap menerbitkan produk serupa. Berkas permohonan pencatatan dari dua manajer investasi telah diterima oleh BEI, sementara tujuh perusahaan lainnya masih merampungkan tinjauan hukum atas prospektus mereka.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono memproyeksikan kehadiran instrumen investasi komoditas ini di pasar modal dapat terwujud dalam waktu dekat pada pertengahan tahun.
"Semoga produk ini akan segera muncul dalam satu dua bulan ke depan ya. Mungkin paling cepat di akhir Juni atau sekitar bulan Juli," ucap Denny dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).
Mekanisme operasional produk ini dirancang terintegrasi dengan melibatkan manajer investasi, bank kustodian, dan dealer partisipan sebagai penyedia kuotasi. Ekosistem bullion yang melibatkan PT Pegadaian serta Bank Syariah Indonesia juga dilibatkan untuk menjamin penyimpanan fisik emas.
Sistem pengawasan ketat akan diterapkan melalui proses verifikasi fisik dan audit berkala atas cadangan emas oleh pihak kustodian. Langkah monitoring secara menyeluruh ini ditujukan untuk menjaga transparansi dan validitas produk reksa dana yang diperdagangkan di bursa.
"Infrastrukturnya kita bangun bersama, yakni infrastruktur di pasar modal KSEI dan infrastruktur yang ada di bullion. Sehingga aspek pengawasan dan monitoring produknya end to end dilakukan baik dari sisi underlying sampai dengan produk investasi ETF nya di pasar modal," jelas Denny.