Bahlil Lahadalia Tunda Royalti Tambang Tembaga Hingga Nikel

Bahlil Lahadalia Tunda Royalti Tambang Tembaga Hingga Nikel

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan untuk menunda penerapan royalti tambang bagi sejumlah komoditas seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak pada Senin (11/5/2026). Langkah ini diambil guna merumuskan skema tarif baru yang tidak memberatkan pelaku industri namun tetap optimal bagi pendapatan negara.

Penangguhan kebijakan ini bertujuan agar tercipta keseimbangan yang lebih baik antara kepentingan pemerintah dan sektor swasta. Dilansir dari Money, Bahlil menekankan bahwa formulasi baru tersebut tengah diupayakan agar memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat.

"Setelah mendengar masukan dari publik dan teman-teman pengusaha, maka ini saya akan pending untuk membangun formulasi yang baik, yang saling menguntungkan," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Proses penyusunan aturan tersebut dilakukan secara hati-hati agar beban pengusaha tidak meningkat secara drastis di tengah dinamika pasar. Bahlil juga mengklarifikasi bahwa kegiatan dengar pendapat yang dilaksanakan pada 8 Mei 2026 terkait perubahan tarif royalti masih merupakan tahap sosialisasi awal.

"(Target Juni) masih kami pikirkan lagi. Andaikan pun itu harus mencari formulasi yang ideal, yang tidak boleh merugikan pengusaha tetapi juga pendapatan negara juga bisa kita optimalkan," ucap Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Rencana kenaikan royalti ini sebelumnya memicu reaksi dari pelaku pasar modal yang tercermin pada pergerakan bursa saham domestik. Berdasarkan data perdagangan Senin pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sempat melemah 9,46 poin atau 0,14 persen menuju level 6.959,94.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menyatakan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan royalti serta kondisi geopolitik global. Ia menyebutkan bahwa komoditas emas mengalami usulan kenaikan tarif batas bawah hingga 100 persen, sementara timah diprediksi menjadi komoditas yang paling terdampak secara signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi