Produk baja lapis buatan dalam negeri sukses menembus pasar internasional setelah meraih compliance certificate Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa. Sertifikasi ini memperkuat posisi produk lokal di pasar global, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa, dengan memanfaatkan 100 persen bahan baku domestik.
Kegiatan ekspor ini dijalankan oleh PT Tata Metal Lestari (TML), seperti dikutip dari Money. Perusahaan mengirimkan beberapa produk unggulan, antara lain baja lapis aluminium seng (BJLAS) bermerek Nexalume, baja lapis seng (BJLS) Nexium, serta baja lapis warna Nexcolor.
Produk baja tersebut tercipta melalui sinergi industri hulu dan hilir antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan PT Tata Metal Lestari. Proses pelepasan ekspor berlangsung di fasilitas produksi Tata Metal Lestari yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada Jumat (22/5/2026).
Sejak ketegangan antara AS dan Iran meletus tiga bulan lalu, nilai ekspor Tata Metal Lestari ke sejumlah negara telah menembus angka sekitar 3,6 juta dollar AS. Jumlah tersebut setara dengan Rp 63,72 miliar, mengacu pada asumsi kurs Rp 17.700 per dollar AS.
"Dengan ini kita ingin menunjukkan bahwa industri nasional masih memiliki peluang untuk ekspor di tengah diberlakukannya kebijakan tarif Section 232 dan anti circumvention Amerika Serikat serta dinamika ekonomi global," ujarnya dalam acara pelepasan ekspor.
Pihak Tata Metal Lestari menerangkan bahwa keseluruhan produk ekspor ini memanfaatkan baja substrat dari proses melt and pour di Indonesia. Bahan baku mentah tersebut disuplai langsung oleh Krakatau Steel.
Pengiriman kali ini dinilai sangat strategis karena menjadi momen perdana bagi produk baja lapis asal Indonesia untuk mendapatkan compliance certificate CBAM Uni Eropa.
"Kami buktikan bahwa dengan menggunakan baja yang Indonesia 100 persen dari Krakatau Steel kami bisa menembus pasar Eropa dan AS ini secara langsung," kata dia.
Berdasarkan hasil verifikasi awal, emisi karbon yang dihasilkan Tata Metal Lestari berada di angka 2,2 tCO2 per ton produk. Angka ini tercatat jauh lebih rendah daripada default value industri baja Indonesia yang mencapai 8,2 tCO2 per ton produk.
Stephanus menyampaikan bahwa pencapaian pre verification CBAM ini menjadi momentum krusial bagi transformasi industri baja nasional menuju sektor manufaktur rendah karbon.
Direktur Komersial Krakatau Steel, Hernowo, mengutarakan bahwa kontinuitas ekspor sangat krusial demi menjaga stabilitas industri baja nasional dari hulu hingga hilir. Krakatau Steel berkomitmen untuk terus menyuplai kebutuhan industri baja antara, termasuk Tata Metal Lestari.
Langkah dukungan ini disiapkan guna mengejar target pengembangan industri steel making nasional hingga mencapai 1,5 juta ton per tahun. Hernowo juga menambahkan bahwa tingkat konsumsi baja merupakan salah satu indikator kemajuan suatu negara.
Saat ini, tingkat konsumsi baja nasional tergolong masih rendah, yaitu berkisar 65 kilogram per kapita per tahun. Data ini memperlihatkan Indonesia masih tertinggal jauh dari Malaysia yang konsumsi bajanya sudah menyentuh 150 kilogram per kapita per tahun.
"Semakin maju sebuah negara, konsumsi baja per kapita per tahun itu semakin tinggi, kira-kira begitu. Nah, kita bisa membacanya dari sisi yang lain juga, berarti peluang kita untuk nge-drive industri baja masih sangat terbuka luas," kata Herwono.
Sebelum merambah pasar AS dan Polandia, Tata Metal Lestari telah lebih dulu mengepakkan sayap ekspornya ke Australia, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Perusahaan ini mengoperasikan fasilitas produksi baja lapis di dua lokasi, yakni Cikarang dan Purwakarta, dengan total kapasitas produksi mencapai 345.000 metrik ton per tahun.