Proyek Pintu Air Cengkareng Barat Sebabkan Banjir Limbah Sebulan

Proyek Pintu Air Cengkareng Barat Sebabkan Banjir Limbah Sebulan

Permukiman warga di RT 03 RW 06 Cengkareng Barat, Jakarta Barat, terendam genangan air limbah berwarna hitam dan berbau busuk pada Rabu (6/5/2026). Kondisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu bulan ini dipicu oleh pembendungan aliran Kali Apuran untuk proyek pembangunan pintu air.

Dilansir dari Megapolitan, air yang berasal dari luapan kali serta selokan tersebut tidak dapat mengalir dan memenuhi lahan kosong di sekitar rumah warga. Hamparan yang semula tanah kering kini menjadi sarang sampah rumah tangga dan merendam berbagai fasilitas warga hingga kandang ternak.

Aliran Kali Apuran saat ini dibendung menggunakan turap baja dan tumpukan karung pasir di sisi Jalan Outer Ring Road untuk mempermudah pengerjaan galian. Meski Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat telah mengerahkan pompa, air seringkali kembali ke permukiman karena kondisi kali yang penuh.

Lia, warga terdampak, menjelaskan bahwa ketinggian air di dalam rumahnya sempat mencapai 60 sentimeter sejak awal April lalu. Genangan tersebut tidak hanya merusak perabotan, tetapi juga menggagalkan panen di lahan pertanian milik orang tuanya.

"Sudah sebulan masih kayak begini. Udah disedot nanti airnya balik lagi. Karena kan dia air dari sini disedot, dibuang ke kali, di ujungnya itu tetep dibendung. Akhirnya tetep airnya balik lagi. Kalau mesin mati, air membalik lagi ke kita," kata Lia, warga RT 03 RW 06.

Dampak ekonomi sangat dirasakan oleh keluarga Lia karena tanaman pangan yang mereka tanam tidak bisa diselamatkan. Area perkebunan tersebut kini mati terendam air limbah yang tak kunjung surut.

"Sehari-harinya engkong itu kan bertani. Kalau sekarang ini enggak bisa lagi menanam timun suri pun hancur enggak bisa panen karena kan udah kerendem. Nanam singkong pun mati. Pohon-pohonan semua, pisang, buah-buahan jadi layu udah enggak ada yang bisa dipanen," keluh Lia, warga RT 03 RW 06.

Selain kerugian materi, masalah kesehatan mulai muncul di tengah masyarakat akibat lingkungan yang menjadi sarang nyamuk. Syarif, seorang lansia setempat, mengaku mengalami gangguan pernapasan sejak air mulai menggenang di samping rumahnya.

"Terganggu lah, bau penyakit. Air ini emang bau penyakit. Batuk, saya batuk melulu nih sebulan enggak sembuh-sembuh," ucap Syarif, warga terdampak.

Syarif menambahkan bahwa lahan kosong yang berada tepat di sebelah kediamannya kini menyerupai danau buatan yang kotor. Kondisi ini membuat hewan ternak milik warga sekitar kehilangan area untuk mencari makan.

"Ini tuh lahan kosong ada yang beli katanya mau diurug, eh belum jadi udah banjir duluan, udah kayak danau ini, kambing-kambing jadi enggak bisa nyari makan rumput," kata Syarif, warga terdampak.

Ketua RW 06, Suroto, mengonfirmasi bahwa kendala utama berasal dari saluran drainase warga yang tersumbat oleh bendungan proyek. Penggunaan pompa air oleh pekerja proyek dinilai belum maksimal karena terkendala waktu operasional mesin.

"Karena ada pekerjaan, mau enggak mau dibendung. Tapi bendungan ini mengakibatkan air itu ngenang. Sudah seminggu ini sudah dilakukan (pompa) dengan baik. Tapi ya dia boros solar kan, paling nyala dua jam terus istirahat dulu, enggak terus-terusan," tutur Suroto, Ketua RW 06.

Warga menyatakan tetap mendukung program pembangunan pemerintah yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026 tersebut. Namun, Suroto berharap pelaksana proyek lebih memperhatikan dampak lingkungan yang merugikan warga sekitar secara langsung.

"Intinya sebenarnya warga itu semuanya mendukung program pemerintah, tapi jangan sampai dampak negatifnya mempengaruhi warga dan membuat kebanjiran gitu," tutur Suroto, Ketua RW 06.

Hingga berita ini diterbitkan, Plt. Kasudin Sumber Daya Air Jakarta Barat, Mustajab, belum memberikan respons saat dihubungi untuk memberikan konfirmasi resmi terkait penanganan banjir tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi