Saluran Air Dangkal Picu Banjir Rel Kereta Bintaro Pesanggrahan

Saluran Air Dangkal Picu Banjir Rel Kereta Bintaro Pesanggrahan

Lintasan rel kereta api di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sering terendam banjir akibat pendangkalan saluran air dan tumpukan sampah pada Sabtu (9/5/2026). Kondisi tersebut menghambat perjalanan KRL Green Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung karena genangan air menutupi area antara Stasiun Kebayoran Lama dan Pondok Ranji.

Dilansir dari Megapolitan, tumpukan lumpur serta sampah di drainase sisi rel diduga menjadi pemicu utama meluapnya air saat hujan turun. Air yang tersumbat tidak hanya menggenangi jalur kereta, tetapi juga mengalir ke permukiman warga di RT 14 RW 6 yang posisinya lebih rendah dari permukaan jalan.

Warga setempat, Romlah, menyebutkan bahwa endapan kotoran yang terus menumpuk tanpa pengerukan rutin membuat daya tampung got sangat terbatas.

“Gotnya eggak dalam gitu lho. Karena ketumpuk lumpur, karena setiap banjir itu kan pasti bawa lumpur, bawa kotoran (sampah),” kata warga, Romlah (49), saat ditemui Kompas.com di lokasi, Sabtu (9/5/2026).

Romlah menjelaskan bahwa hilangnya area penampungan air akibat pembangunan rumah-rumah baru memperparah keadaan di wilayah Gang Haji Manat tersebut.

“Karena di belakang sudah pernah ada pembangunan rumah-rumah, jadi penampungan airnya emang enggak ada,” ungkap Romlah.

Ia berharap petugas terkait segera melakukan tindakan pembersihan setelah banjir surut agar material sampah tidak menyumbat aliran air secara permanen.

“Idealnya sih sehabis banjir harusnya ada dari PPSU tuh langsung tindakan gitu lho ngambilin sampah. Karena kemarin juga saya lihat di pinggir jalan yang dekat 86 itu ada kasur-kasur ditaruh di pinggir jalan,” tutur dia.

Perubahan tata guna lahan di sekitar lokasi dinilai warga sebagai faktor yang membuat dampak banjir semakin merugikan masyarakat sekitar.

“Waktu itu belum dibangun (rumah) kan buat penampungan air. Nah sekarang kan sudah enggak ada tuh, sudah dibikin bangunan semua. Ya mungkin imbas dari itu juga,” ujar dia.

Ketidakpastian tempat tinggal membuat Romlah terpaksa bertahan meski lelah menghadapi banjir berkali-kali yang merusak perabotan rumahnya.

“Kebetulan saya rumah sendiri ya. Kalau saya ngontrak saya mau pindah karena capek. Mau pindah tapi kalau sekarang kan rumah mahal ya,” ujar dia.

Kondisi drainase yang buruk juga dikeluhkan oleh Geri, warga lain yang menyoroti betapa mudahnya saluran tersebut tersumbat benda padat.

“Itu kalau ada kayu aja satu, sudah tuh, mampet. Memang harus dikomplain itu, dangkal banget, banyak sampahnya,” kata dia ditemui terpisah.

Sebelumnya, gangguan besar terjadi pada Senin (4/5/2026) malam yang membuat operasional KRL terhenti selama tiga jam dan memicu percikan api pada Listrik Aliran Atas (LAA). Camat Pesanggrahan, Angga Saputra, mengakui intensitas hujan saat itu sangat ekstrem hingga melampaui kapasitas Kali Uangan.

“Biasanya yang parah itu akhir tahun. Ini agak aneh, karena tidak semua titik hujan. Ini lagi ekstremnya banjirnya,” ungkap Angga saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Angga menambahkan bahwa luapan air dari hulu tidak bisa dihindari sehingga aliran di pinggir rel kereta menjadi terhambat.

“Ini penyebabnya (banjir) di pinggir rel kereta karena intensitas hujan lebat dan kapasitas debit Kali Uangan enggak bisa menampung debit air sehingga aliran air terhambat,” jelas dia.

Pemerintah setempat berencana melakukan penelusuran ke sungai-sungai lain dan mengusulkan pengerukan rutin guna mengantisipasi dampak banjir yang bisa meluas hingga Jakarta Barat.

“Saya baru enam bulan di sini, belum kelihatan ada lagi sih. Tanpi kayaknya tahun lalu ada (pengerukan). Harapannya sih ke depannya perlu rutin, untuk antisipasi,” kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi