Penurunan beban pemulihan kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment dicatatkan oleh sejumlah bank besar pada April 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perbaikan kualitas aset serta risiko kredit perbankan yang semakin terkendali, sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Berdasarkan data laporan keuangan bulanan, penurunan beban pencadangan dialami oleh PT Bank Mandiri Tbk sebesar 17,08 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 2,5 triliun. Langkah serupa juga dicatatkan PT Bank Central Asia Tbk yang menekan beban impairment sebesar 16,24 persen yoy menjadi Rp 1,06 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk membukukan penyusutan beban pencadangan terdalam mencapai 34,99 persen yoy menjadi Rp 864 miliar.
Pengamat dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai tren penurunan ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang terjaga, peningkatan kemampuan bayar debitur, serta efektivitas restrukturisasi kredit penagihan bermasalah.
"Kontribusi terbesar biasanya berasal dari segmen kredit korporasi dan komersial yang memiliki eksposur besar, meskipun pada beberapa bank perbaikan juga terlihat pada kredit UMKM dan konsumsi," ujar Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan pada Rabu (3/6/2026).
Trioksa Siahaan menjelaskan lebih lanjut bahwa efisiensi biaya pencadangan ini secara langsung menopang profitabilitas bank karena pendapatan operasional dapat dialokasikan lebih besar menjadi laba bersih. Namun, ia mengingatkan tantangan dari tingginya suku bunga masih membayangi debitur dengan leverage tinggi.
Oleh karena itu, ia menyarankan pihak perbankan untuk tetap konsisten memperkuat analisis kredit serta menerapkan sistem peringatan dini demi menjaga kecukupan pencadangan.
Di sisi lain, perbaikan portofolio kredit juga dikonfirmasi oleh manajemen BTN melalui penurunan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) menjadi 3,1 persen pada Kuartal I-2026. Guna menghadapi dinamika makroekonomi, bank tersebut tetap berfokus pada penguatan cakupan perlindungan risiko secara prudent.
"Sepanjang kuartal I-2026, cost of credit tercatat sekitar 0,9% dengan tujuan memperkuat coverage ratio hingga berada di atas 124%," ujar Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo.
Setiyo Wibowo menambahkan bahwa BTN menargetkan rasio NPL dapat ditekan di bawah 3 persen dengan cakupan perlindungan mendekati 130 persen. Manajemen menerapkan sejumlah pembaruan teknologi seperti data analytics, kecerdasan buatan (AI), serta penajaman manajemen penagihan berbasis segmentasi risiko.
Tren penurunan beban pencadangan yang signifikan juga dialami oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. Hingga April 2026, nilai impairment bank tersebut turun hingga 59,57 persen menjadi Rp 347 miliar jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 yang mencapai Rp 859 miliar.
Pimpinan manajemen CIMB Niaga menegaskan kualitas portofolio kredit perusahaan secara umum masih sehat. Sektor pembiayaan otomotif sempat memicu sedikit kenaikan rasio NPL menjadi 1,88 persen pada kuartal I-2026 akibat adanya implementasi regulasi baru.
"NPL memang naik karena regulasi baru di auto, namun akan ternormalisasi menuju kuartal III tahun ini," ujar Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan.
Lani Darmawan menyatakan situasi ini membuktikan bahwa ketahanan aset perusahaan tetap berada dalam kondisi yang aman di tengah tantangan peningkatan biaya dana.
"Impairment terus turun yang memperlihatkan resiliency asset quality kami yang bagus," ujar Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan.