Pasar keuangan domestik berspekulasi bahwa Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen setelah nilai tukar rupiah anjlok tajam, dilansir dari Nasional.
Mata uang Garuda ditutup melemah 71 poin atau 0,40 persen ke level Rp 17.668 per dollar AS pada perdagangan Senin lalu. Kondisi kejatuhan nilai tukar ini memicu kekhawatiran baru sekaligus mendorong ekspektasi intervensi dari bank sentral demi meredam gejolak pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa depresiasi rupiah yang terjadi saat ini menjadi sinyal meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset-aset di Indonesia. Tekanan terhadap mata uang ini turut berdampak pada volatilitas pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan.
"Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia," ujar Nafan, Selasa (19/5/2026).
Langkah penyesuaian BI Rate tersebut dinilai menjadi strategi intervensi yang krusial. Kebijakan moneter ini diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar dari hantaman sentimen global.
"Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026," papar Nafan.
Nafan menambahkan, keputusan menaikkan suku bunga acuan berpotensi menahan koreksi IHSG lebih dalam apabila direspons secara positif oleh pelaku pasar keuangan.
"Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam," beber Nafan.
| Komponen | Perkiraan |
|---|---|
| Jadwal RDG BI | 19–20 Mei 2026 |
| Potensi kenaikan suku bunga | 25 bps |
| Perkiraan BI Rate baru | 5% |
| Tujuan kebijakan | stabilisasi rupiah & meredam gejolak pasar |
| Rupiah melemah tajam | persepsi risiko investor meningkat |
| IHSG | volatil dan tertekan |
| Ekspektasi pasar | BI berpeluang menaikkan suku bunga |