Bank Indonesia (BI) meningkatkan aksi intervensi pasar valuta asing dan sejumlah langkah strategis lainnya untuk mengembalikan stabilitas nilai tukar rupiah setelah sempat menyentuh level terendah. Mata uang Garuda sempat merosot hingga melewati angka 17.500 per dolar AS pada Rabu, 13 Mei 2026.
Langkah tegas BI diambil guna mencegah dampak pelemahan mata uang yang dapat memicu inflasi serta mengganggu kondisi pendanaan bagi pemerintah maupun perusahaan. Setelah intervensi dilakukan, nilai tukar rupiah ditutup pada level 17.475 per dolar AS pada akhir perdagangan hari tersebut.
Bank sentral mengonfirmasi kepada media lokal bahwa mereka tengah mengintensifkan paket tujuh kebijakan. Rencana tersebut mencakup intervensi valuta asing yang lebih masif menggunakan cadangan devisa guna memperhalus fluktuasi nilai tukar di pasar.
Selain intervensi langsung, BI memberlakukan batasan yang lebih ketat terhadap pembelian dolar dan menjajaki pengaturan pertukaran mata uang atau currency swap. Aktivasi dana stabilisasi obligasi juga dilakukan sebagai upaya untuk menopang surat utang pemerintah Indonesia.
Upaya ini bertujuan untuk memutus siklus negatif di mana penjualan obligasi memperlemah rupiah, sementara rupiah yang lemah mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi. BI juga berupaya meyakinkan investor bahwa fundamental ekonomi nasional, termasuk pertumbuhan dan keseimbangan eksternal, tetap terjaga dengan baik.
Penguatan pertahanan nilai tukar ini diharapkan dapat mengurangi spekulasi searah di pasar, terutama pada level psikologis 17.500. Langkah BI untuk menyediakan akses dolar melalui jalur resmi dimaksudkan untuk meredam kepanikan permintaan dan menekan kenaikan harga barang impor.
Pelemahan rupiah diketahui berdampak langsung pada kenaikan biaya perjalanan luar negeri dan harga barang-barang impor. Dengan stabilisasi kurs, Bank Indonesia menargetkan dapat membatasi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang bergantung pada input impor di pasar domestik.