Ketidakpastian global serta ketegangan konflik di Timur Tengah memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kondisi ini diperberat oleh keterbatasan pasokan dolar AS di dalam negeri.
Dikutip dari Suara, faktor musiman juga memengaruhi stabilitas mata uang nasional. Kebutuhan valuta asing melonjak untuk keperluan pembayaran utang luar negeri serta repatriasi dividen.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.
"Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," kata Ramdan Denny.
Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah secara berkesinambungan. Langkah taktis dilakukan baik di pasar domestik maupun luar negeri.
Otoritas moneter mengoptimalkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Selain itu, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) diperkuat di pasar domestik.
Bank Indonesia juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini dijalankan secara konsisten dan terukur untuk mendukung ketahanan ekonomi.
"Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing," jelas Ramdan Denny.
Bank Indonesia memantau secara ketat perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Kebijakan lanjutan akan diambil guna menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.