Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen Demi Rupiah

Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen Demi Rupiah

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen dan mengerek suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia di atas 6 persen pada Rabu (20/5/2026). Langkah strategis tersebut ditempuh guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memicu aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik, sebagaimana dilansir dari Nasional.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti memaparkan bahwa pengetatan kebijakan moneter ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan global. Selain itu, kondisi suku bunga tinggi di tingkat global diproyeksikan bakal bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin tersebut sengaja diterapkan untuk mempertahankan daya saing instrumen keuangan dalam negeri. Bank Indonesia berupaya memastikan imbal hasil portofolio domestik tetap kompetitif bagi para investor internasional dibandingkan dengan negara-negara kompetitor.

"Tentu juga membuat instrumen keuangan yang kita miliki untuk portofolio itu menjadi lebih menarik lagi. Menjadi menarik karena dia bisa mendatangkan return yang tidak kalah dengan kalau ditempatkan di instrumen keuangan di negara lain," ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).

Sebelum keputusan penyesuaian BI Rate tersebut, Bank Indonesia telah lebih dahulu mendongkrak tingkat suku bunga SRBI demi memikat pemilik modal global. Tercatat pada 13 Mei 2026, tingkat bunga SRBI disesuaikan menjadi 6,21 persen untuk tenor 6 bulan, 6,31 persen untuk tenor 9 bulan, dan 6,45 persen bagi tenor 12 bulan.

Kebijakan penyesuaian suku bunga yang agresif ini dilaporkan mulai membuahkan hasil positif pada kuartal II 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia, arus modal dari luar negeri terpantau mengalir deras ke instrumen SRBI sepanjang April hingga Mei, yang kemudian merembet positif ke Surat Berharga Negara.

"Sejak bulan April-Mei itu memang sudah inflow masuk sangat deras di SRBI, yang kemudian juga disusul oleh SBN," katanya.

Secara akumulatif, total modal asing yang terserap ke dalam instrumen SRBI saat ini telah menembus angka Rp 105 triliun. Realisasi aliran masuk bersih investasi portofolio asing ke tanah air sendiri telah menyentuh angka US$ 5,5 miliar hingga data per 18 Mei 2026.

Destry menambahkan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun dari 3,9 persen ke level 4,6 persen. Fenomena tersebut menaikkan premi risiko global secara signifikan, sehingga Indonesia dituntut memperkuat daya tarik asetnya.

"Ini situasi yang memang meningkat karena risk premium secara global juga meningkat," ujarnya.

Kebijakan moneter berlapis ini pada akhirnya diintegrasikan untuk memitigasi dampak rembetan ketidakpastian global terhadap tingkat inflasi di dalam negeri.

Artikel terkait

Rekomendasi