Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 untuk menahan tekanan imported inflation, dilansir dari Nasional pada Rabu (20/5/2026).
Langkah pengetatan moneter ini diambil akibat adanya tekanan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga komoditas global. Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menjelaskan bahwa tekanan inflasi impor saat ini dipicu kenaikan harga bahan baku industri, pangan impor, hingga energi akibat geopolitik dunia.
Meski demikian, risiko dari pelemahan rupiah kini mulai termitigasi berkat pendalaman pasar keuangan dan ketersediaan instrumen lindung nilai. Upaya stabilisasi dari bank sentral juga secara konsisten terus berjalan di pasar uang.
“Karena kita sudah melakukan proses pendalaman pasar uang kemudian juga transaksi hedging yang tersedia dan terlebih lagi tentang komitmen kebijakan BI dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah, maka angka exchange rate pass through ini dari pengamatan kami semakin lama semakin kecil,” ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).
Kewaspadaan tetap diperlukan karena eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz mengganggu rantai pasok global. Situasi tersebut mengerek harga minyak Brent hingga menyentuh angka US$ 93 per barel pada awal pekan ini.
“Tidak saja harga minyak, tetapi juga LNG yang diproduksi Qatar, termasuk harga-harga substitusi seperti batu bara, CPO, nikel, dan lain-lain juga mengalami peningkatan,” kata Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Dampak kenaikan harga komoditas tersebut sudah mulai merembet ke domestik melalui penyesuaian harga BBM non-subsidi serta avtur. Walakin, Bank Indonesia mencatat inflasi inti dan kelompok pangan bergejolak masih berada dalam kondisi yang terkendali.
Guna memperkuat pengendalian inflasi di dalam negeri, bank sentral mengintensifkan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Sinergi ini dijalankan secara terintegrasi melalui wadah TPIP dan TPID.
“Kami memperkirakan inflasi selama 2026-2027 masih terjaga pada sasarannya 2,5% plus minus 1%,” ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.