Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan untuk Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan untuk Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur periode Mei 2026 demi menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah akibat gejolak perang di Timur Tengah.

Langkah agresif bank sentral yang dilansir dari Money ini turut menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen dan suku bunga lending facility menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut diproyeksikan dapat memancing aliran dana asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Global Markets Economist at Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kenaikan tersebut dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dalam negeri, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), surat utang negara, tabungan, dan deposito.

"Kita harapkan tekanan yang terjadi di pasar keuangan kita bisa mereda. Rupiah kalau kondisi seperti ini harusnya bisa kembali ke level Rp 17.236," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Myrdal memperkirakan imbal hasil atau yield surat utang negara dengan tenor 10 tahun akan melonjak setelah adanya kebijakan baru dari bank sentral ini.

"Untuk yield surat utang negara 10 tahun bisa loncat ke sekitar 6,9 sampai 7,2 persen," kata Myrdal.

Masuknya modal asing dari luar negeri diharapkan mampu meringankan tekanan yang dihadapi oleh mata uang rupiah saat ini.

"Kalau itu terjadi, flow akan masuk nih. Kita lihat flow akan masuk, walaupun kondisi seperti apa, ini akan masuk lah flow-nya dari luar. Jadi kita harapkan tekanan yang terjadi di pasar keuangan kita bisa mereda. Rupiah kalau kondisi seperti ini harusnya bisa kembali ke level Rp 17.236," ucap Myrdal.

Sementara itu, respons lain datang dari pelaku sektor perbankan nasional yang menyoroti dampak lanjutan terhadap situasi ekonomi di dalam negeri.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual berpendapat bahwa peningkatan suku bunga acuan ini berpotensi memicu kenaikan inflasi yang perlu diantisipasi.

"Bisa memberikan sentimen positif bagi rupiah tapi isu-isu lain terkait masalah struktural juga harus segera dibereskan," tutur David kepada Kompas.com, Rabu.

Artikel terkait

Rekomendasi