Bank Indonesia Berpeluang Naikkan BI Rate Jadi 5 Persen

Bank Indonesia Berpeluang Naikkan BI Rate Jadi 5 Persen

Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada Selasa (19/5/2026) hingga Rabu (20/5/2026). Langkah pengetatan moneter tersebut diproyeksikan oleh mayoritas analis pasar guna mengintervensi nilai tukar rupiah yang terus merosot tajam terhadap dolar AS.

Pelemahan mata uang domestik semakin mendalam setelah rupiah di pasar spot anjlok ke level Rp17.730 per dolar AS pada perdagangan Selasa siang menurut data Refinitiv, serta sempat menyentuh Rp17.704 berdasarkan data Kompas.com. Depresiasi ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya saat rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.640 hingga Rp17.668 per dolar AS akibat gejolak eksternal dari tensi geopolitik Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia.

Survei Bloomberg dan polling CNBC Indonesia terhadap 15 lembaga keuangan menunjukkan perbedaan pandangan di kalangan pelaku pasar, dengan sembilan institusi memprediksi kenaikan suku bunga sedangkan enam lainnya memperkirakan BI Rate tetap di level 4,75 persen. Jika pengetatan ini terealisasi, maka akan menjadi kenaikan BI Rate pertama dalam dua tahun terakhir sejak April 2024.

Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menjelaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah yang masif memaksa bank sentral untuk segera mengambil tindakan tegas di pasar keuangan.

"Naik 25 bps. Rupiah sudah lemah, membentuk all time high baru setiap hari," ujar Ezaridho kepada CNBC Indonesia.

Tekanan terhadap mata uang nasional tersebut juga diperkirakan memicu berlanjutnya perpindahan dana dari pasar domestik ke luar negeri.

"Foreign and domestic capital outflow bisa diasumsikan lanjut," lanjut Ezaridho.

Kebutuhan intervensi moneter ini dirasakan kian mendesak karena instrumen penguat yang ada saat ini belum mampu menstabilkan volatilitas pasar uang.

"Sejujurnya kami melihat ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga bulan ini," kata Hosianna Situmorang, Ekonom Bank Danamon Indonesia.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, turut mengonfirmasi bahwa ketidakpastian pasar finansial global menjadi pendorong utama di balik proyeksi kenaikan BI Rate ke level 5,00 persen.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% pada Mei 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat," ujar Juniman.

Kenaikan harga energi dunia dan derasnya arus modal keluar menjadi landasan tambahan bagi otoritas moneter dalam mengkaji ulang kebijakan suku bunga mereka.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kejatuhan rupiah saat ini telah meningkatkan kekhawatiran dan persepsi risiko para investor terhadap aset-aset di Indonesia.

“Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,” ujar Nafan kepada Kompas.com.

Spekulasi pengetatan moneter ini dipandang mampu menjadi sentimen positif untuk menahan koreksi lebih dalam pada Indeks Harga Saham Gabungan.

“Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,” papar Nafan.

Kebijakan pengetatan ini dinilai sebagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya tekanan global.

“Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,” beber Nafan.

Di sisi lain, opsi untuk mempertahankan suku bunga tetap terbuka demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Potensi kenaikan BI Rate ini turut memengaruhi instrumen investasi domestik, seperti Sukuk Tabungan ST016 yang memiliki skema kupon floating with floor. Berdasarkan data Bareksa dari simulasi Kementerian Keuangan, jika suku bunga naik menjadi 5 persen, kupon seri ST016T2 berpotensi naik menjadi 6,3 persen dan seri ST016T4 menjadi 6,5 persen pada periode penyesuaian 11 Agustus 2026.

Hasil akhir keputusan mengenai kebijakan suku bunga acuan serta target Deposit Facility dan Lending Facility tersebut akan diumumkan secara resmi oleh Bank Indonesia pada Rabu (20/5/2026).

Artikel terkait

Rekomendasi