Bank Indonesia Optimis Rupiah Menguat Setelah Kenaikan BI Rate

Bank Indonesia Optimis Rupiah Menguat Setelah Kenaikan BI Rate

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah akan kembali menguat secara bertahap setelah adanya keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Langkah penyesuaian dari posisi sebelumnya yang sebesar 4,75 persen ini diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, seperti dilansir dari Nasional pada Rabu (20/5/2026).

Kebijakan pengetatan moneter tersebut sengaja diambil oleh otoritas fiskal demi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan ini terus tertekan oleh tingginya gejolak pasar keuangan global.

“Kami tegaskan, dalam perumusan respons kebijakan termasuk kenaikan BI Rate, kami betul-betul mempertimbangkan secara masak dan terukur untuk menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal di tengah gejolak global dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan bersama dengan penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diproyeksikan mampu memicu kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

“Kami meyakini dengan penguatan BI Rate ini akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Rupiah akan stabil di bulan Juni dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus,” katanya Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Fundamental ekonomi nasional dinilai masih sangat kokoh yang terlihat dari rendahnya defisit transaksi berjalan, tingginya pertumbuhan ekonomi, serta angka inflasi yang tetap berada di bawah kendali.

Sebaliknya, pelemahan mata uang garuda belakangan ini lebih dipicu oleh faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, hingga kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Permintaan valas di dalam negeri juga sempat melonjak pada periode April hingga Juni akibat kebutuhan ibadah haji, pembayaran utang luar negeri, serta siklus pembagian dividen perusahaan.

Bank Indonesia merespons situasi tersebut dengan mengintensifkan intervensi di pasar valas domestik maupun offshore NDF serta menaikkan suku bunga SRBI untuk membalikkan arus modal keluar menjadi masuk.

“Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” ujarnya Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Memasuki semester II-2026, tekanan terhadap mata uang domestik diperkirakan bakal mereda seiring dengan mulai berkurangnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

“Kalau kita melihat histori, rupiah memang mendapat tekanan pada periode ini, tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Untuk itu kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” tandas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi