Bank Indonesia Siapkan Kenaikan Suku Bunga demi Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia Siapkan Kenaikan Suku Bunga demi Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia memberi sinyal pergeseran arah kebijakan moneter pada 2026 dengan lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi guna menahan arus modal keluar. Langkah tersebut membuka ruang kenaikan suku bunga domestik di tengah tingginya tekanan global, dilansir dari Nasional pada Senin (18/5/2026).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa gejolak eksternal seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik memicu pelarian modal dari negara berkembang. Situasi ini memaksa bank sentral untuk bertindak lebih agresif dalam menjaga pasar keuangan domestik.

"Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth. Tapi dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan tahun lalu ketika bank sentral masih memiliki kelonggaran untuk memangkas suku bunga acuan. Pelonggaran tersebut dapat dilakukan karena minimnya tekanan terhadap arus modal keluar dari pasar keuangan dalam negeri.

"Kenapa tahun lalu kami turunkan suku bunga lima kali? Karena waktu itu tidak terjadi outflow," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Kenaikan suku bunga domestik kini menjadi opsi yang tidak bisa dihindari untuk mempertahankan minat investor asing. Tanpa penyesuaian tersebut, potensi pelarian modal keluar dari pasar keuangan Indonesia akan semakin besar.

"Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Tapi kalau tidak mau outflow, suku bunga domestik harus naik," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Sebagai langkah antisipasi awal, bank sentral telah menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia hampir 100 basis poin. Kebijakan ini terbukti menarik aliran modal asing masuk sekitar Rp 75 triliun selama periode April hingga Mei 2026.

Intervensi di pasar valuta asing juga terus ditingkatkan demi meredam gejolak nilai tukar secara maksimal.

"Kami lakukan all out. Dosis intervensinya kami tingkatkan," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Aksi stabilisasi ini berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$ 10 miliar, meskipun posisinya dipastikan tetap aman sesuai standar IMF. Selain itu, otoritas moneter akan memangkas batas pembelian dolar AS tanpa underlying transaksi dari US$ 50.000 menjadi US$ 25.000 mulai Juni 2026.

Bank sentral memproyeksikan tekanan musiman terhadap permintaan valuta asing akan segera mereda dalam beberapa bulan ke depan.

"Pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang demand devisa tinggi. Nanti Juli, Agustus akan menguat," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Bank Indonesia tetap meyakini pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini akan bergerak stabil. Rata-rata nilai tukar diperkirakan bertahan pada kisaran asumsi makro APBN 2026 yaitu Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi