Bank Indonesia (BI) memperkuat komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar menyusul tekanan global yang memicu pelemahan mata uang pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini bertujuan memastikan mekanisme pasar berjalan sesuai nilai fundamental di tengah fluktuasi ekonomi dunia.
Nilai tukar rupiah dilaporkan melemah hingga mencapai posisi Rp14.437 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan data Bloomberg. Angka tersebut menjadi rekor pelemahan terbaru bagi mata uang Garuda sebagaimana dilansir dari Suara.
Intervensi dilakukan secara optimal melalui transaksi valuta asing dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI berupaya mengendalikan volatilitas yang muncul akibat sentimen negatif dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah masih bergerak selaras dengan tren mata uang negara berkembang lainnya. Kondisi ini dipicu oleh pelarian modal ke aset yang lebih aman selama periode konflik.
"Pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya. Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso -4,24 persen Indonesia rupiah -3,65 persen dan Korea won -2,29 persen," beber Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI.
Bank Indonesia mengandalkan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pasar spot di dalam negeri. Strategi ini diambil secara konsisten untuk meredam tekanan yang berlanjut pada nilai tukar nasional.
"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tandas Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI.