PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2025 senilai Rp 850,18 miliar, atau setara dengan Rp 56,62 per lembar saham, sebagaimana dilansir dari Stocksetup.
Alokasi tersebut mencakup 55 persen dari total laba bersih yang dibukukan perseroan sepanjang tahun 2025, dengan nilai per saham yang meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 54,71 per saham.
Apresiasi pasar terlihat pada perdagangan Jumat (8/5/2026), di mana harga saham BJTM ditutup menguat 1,68 persen ke level Rp 605 per saham, sehingga menghasilkan estimasi rasio imbal hasil dividen sebesar 9,4 persen.
Dinamika pasar modal ini menempatkan BJTM sebagai salah satu instrumen investasi sektor perbankan yang memberikan imbal hasil menarik bagi para pemegang saham saat ini.
“BJTM menjadi salah satu saham bank yang menarik dari sisi dividend yield, karena dividen Rp 56,62 per saham memberikan estimasi yield sekitar 9,5%–9,6% berdasarkan harga saham di kisaran Rp 590–Rp 595,” ujar Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama pada Jumat (8/5/2026).
Minat beli pelaku pasar biasanya tereskalasi menjelang tanggal pencatatan hak dividen, yang sekaligus menjadi pendorong penguatan harga instrumen investasi tersebut dalam jangka pendek.
“Dampak pembagian dividen biasanya positif dalam jangka pendek karena minat investor meningkat menjelang cum date. Namun setelah ex-date, harga saham umumnya berpotensi terkoreksi menyesuaikan nilai dividen,” jelas Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional mencapai 9,49 persen secara tahunan per Maret 2026, meski fluktuasi margin bunga dan biaya dana tetap menjadi perhatian investor.
“Area tersebut masih memberikan yield yang atraktif dan margin of safety lebih baik,” kata Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama saat merekomendasikan target harga jangka pendek saham BJTM pada kisaran Rp 650 hingga Rp 670 per saham.
Kondisi eksternal industri perbankan saat ini diyakini masih memiliki daya tarik yang kuat bagi para pemodal, meskipun terdapat tantangan berupa penyempitan margin keuntungan yang membatasi ruang kenaikan rasio pembayaran dividen.
Proyeksi keberlanjutan pemenuhan hak pemegang saham di masa mendatang akan lebih menitikberatkan pada aspek stabilitas jangka panjang dibandingkan pengejaran angka imbal hasil yang terlalu tinggi.