Sejumlah bank di Indonesia berupaya mendongkrak pendapatan berbasis komisi atau fee-based income guna mendiversifikasi sumber pendapatan setelah suku bunga acuan Bank Indonesia naik menjadi 5,25 persen. Langkah tersebut diambil demi mengantisipasi penyusutan pendapatan bunga kredit bersih akibat potensi penurunan minat kredit masyarakat, seperti dilansir dari Keuangan.
PT Bank SMBC Indonesia Tbk menjadi salah satu lembaga keuangan yang memperkuat fokus pada sektor pendapatan komisi ini. Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar menyampaikan bahwa pihak perbankan saat ini tidak dapat sekadar bersandar pada keuntungan pendapatan bunga kredit bersih.
"SMBC Indonesia terus meningkatkan strategi untuk menambah FBI. Kalau bank melulu hanya mengandalkan pinjaman, tentu akan ada suatu risiko peningkatan lending rate yang berakibat ketidaktertarikan nasabah," kata Henoch kepada Kontan pada Selasa, 19 Mei 2026.
Penurunan pendapatan bunga kredit bersih SMBC Indonesia tercatat sebesar 1,33 persen secara tahunan menjadi Rp 4,01 triliun hingga kuartal pertama tahun ini. Sebaliknya, perolehan komisi, provisi, fee, dan administrasi perusahaan tumbuh 4,2 persen secara tahunan mencapai Rp 346 miliar yang disokong oleh transaksi nasabah via aplikasi Jenius serta layanan lindung nilai.
Strategi serupa turut diterapkan oleh PT Bank KEB Hana Indonesia yang terus memacu kapabilitas perolehan pendapatan non-bunga. Direktur Branch Business Hana Bank, Hendri Setiawan menjelaskan bahwa tekanan ekonomi serta gejolak global memaksa perbankan untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan bunga kredit bersih melalui pengembangan bisnis manajemen kekayaan sejak tiga tahun terakhir.
"Bisnis wealth management ini baru fokus di tiga tahun terakhir. Itu karena mempertimbangkan NIM kita tertekan, sehingga pilihannya menumbuhkan fee-based income," kata Hendri.
Hingga kuartal pertama tahun ini, total dana kelolaan secara off balance Hana Bank telah menembus angka Rp 70 miliar. Pihak manajemen menetapkan target perolehan komisi bersih dari sektor bisnis ini sebesar Rp 50 miliar pada akhir tahun ini, atau melonjak dua kali lipat dibandingkan target tahun sebelumnya.
"Ada dua pilar untuk pertumbuhan fee-based income di Hana Bank, dari transaction banking khususnya remitansi dan untuk layanan individu salah satunya adalah bisnis wealth," ucap Hendri.
Hana Bank sendiri mencatatkan penurunan pendapatan bunga kredit bersih sekitar 4,3 persen secara tahunan menjadi Rp 449,66 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mengoptimalkan sektor remitansi meskipun menghadapi tantangan fluktuasi nilai tukar rupiah.
"Meningkatkan fee-based income itu merupakan strategi yang paling logis, sehingga bank tidak lagi terlalu bergantung terhadap NIM," ujar Hendri.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan pertumbuhan pendapatan selain bunga sebesar 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp 6,6 triliun hingga kuartal pertama tahun ini. Hasil positif tersebut ditopang oleh pendapatan fee dan komisi yang meningkat 14,2 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 5,5 triliun.
EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn mengungkapkan bahwa perusahaan bakal menjaga suku bunga kredit pada tingkat yang dapat diterima pasar demi menjaga stabilitas pendapatan bunga kredit bersih. Pihak BCA tetap optimis bahwa penyaluran kredit dapat tumbuh sesuai target hingga akhir tahun ini.
"Kami konsisten mencermati perkembangan suku bunga acuan ke depan, parameter makroekonomi lainnya, potensi risiko, kondisi likuiditas sektor perbankan dan pasar yang dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran," ucap Hera.