Warga RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, berhasil mengelola sekitar 500 kilogram sampah setiap harinya di tengah permukiman padat. Pengolahan limbah ini dilakukan melalui Bank Sampah Cemara yang berlokasi di gang sempit wilayah tersebut.
Bank Sampah Cemara, atau yang akrab disapa Tempe Bacem (Tempat Pemilahan Bank Sampah Cemara), telah beroperasi sejak tahun 2018. Fasilitas ini melayani pemilahan sampah dari 10 RT yang dihuni oleh sekitar 2.000 penduduk, seperti dilansir dari Megapolitan.
Selain limbah rumah tangga, Bank Sampah Cemara juga menerima pasokan dari Pasar Koja, rumah makan, sekolah, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kehadirannya terbukti efektif menekan penumpukan sampah organik di lingkungan internal maupun area sekitarnya.
Sebelum fasilitas ini berdiri, sampah warga RW 01 biasanya menumpuk di pinggir jalan sekitar area Pasar Koja. Namun, selama hampir delapan tahun terakhir, pola tersebut berubah karena warga mulai mengolah limbah secara mandiri di lingkungan mereka.
Pendiri Bank Sampah Cemara, Dani Arwanto, mengaku tergerak membangun sistem ini karena menyadari potensi ekonomi dari limbah. Ia melihat sampah organik memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat jika dikelola dengan tepat.
"Kami melihat bahwa sampah organik itu bukan lagi sekadar limbah, tetapi di dalamnya terdapat kandungan nutrisi yang harus kita kelola untuk kebutuhan hewan maupun tanaman di lingkungan sekitar," kata Dani.
Limbah organik lunak kini diolah menjadi pupuk dan pakan ternak. Sementara itu, sampah organik keras seperti batang pohon, kayu, dan triplek dialihfungsikan menjadi pelet biomassa sebagai energi alternatif pengganti gas LPG.
Warga juga dapat menjual sampah plastik ke bank sampah dengan harga berkisar Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Penentuan harga ini mengikuti standar yang ditetapkan oleh Bank Sampah Induk (BSI).
Metode Pengolahan Menggunakan Maggot dan Mesin
Bank Sampah Cemara menerapkan dua metode utama dalam memproses sampah organik. Metode pertama adalah menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk mengurai sisa dapur yang lunak.
"Maggot digunakan untuk mengurai sampah organik lunak atau sisa dapur. Produksi maggot di sini sekitar 80 kg sampai 100 kg per hari," jelas Denny.
Larva tersebut bekerja cepat dengan mengonsumsi sampah organik dalam waktu singkat. Setelah mencapai tahap tertentu, maggot dipanen sebagai campuran pakan ternak yang kaya nutrisi, sehingga menambah nilai guna limbah.
Metode kedua melibatkan penggunaan mesin khusus yang mampu mengolah sampah dengan kapasitas 500 kilogram hingga satu ton per hari. Menariknya, produktivitas mesin ini terkadang membuat pengelola kekurangan stok bahan baku.
"Sekarang kami malah kekurangan stok sampah organik. Jika ada yang punya sampah organik yang sudah dipilah, silakan disedekahkan ke tempat kami," sambung dia.
Sistem Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas
RW 01 Tugu Utara sudah menerapkan sistem 'Rumah Memilah' jauh sebelum kewajiban pemilahan sampah dari rumah dicanangkan Pemerintah Provinsi Jakarta. Setiap RT menyediakan wadah untuk menyetor sampah berdasarkan jenisnya.
Warga mengumpulkan sampah organik basah dan keras untuk disetor ke RT, sedangkan sampah plastik dijual ke Bank Sampah Cemara setelah terkumpul dalam jumlah banyak. Peran kader PKK dan Dasawisma sangat krusial dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Awalnya dimulai dari para kader terlebih dahulu. Mereka memberi contoh dengan mengumpulkan barang bekas seperti botol plastik setelah minum atau setelah acara-acara tertentu," tutur Deni.
Selain edukasi langsung, pengurus RW juga mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang unik. Orang tua siswa dapat membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) anak mereka menggunakan sampah plastik.
Pengelola Bank Sampah, Ita (35), menceritakan bahwa awalnya ada kekhawatiran warga akan menolak karena menganggap sampah sebagai benda kotor. Namun, kehadiran kader yang memberikan contoh nyata berhasil meruntuhkan stigma tersebut.
"Tapi melihat kader-kader kita ikut mengumpulkan, akhirnya ada beberapa warga yang ikut dan bilang 'Ya sudah yuk, kita timbang di Tempe Bacem saja, kan kita punya sendiri'. Ditambah lagi harga kita agak beda dengan lapak-lapak lain, beda tipis tapi lumayan," ucap Ita.
Dampak Sosial dan Dukungan Pemerintah
Edukasi yang konsisten membuat Bank Sampah Cemara kini memiliki sekitar 100 nasabah aktif. Hasil penjualan sampah dari rumah ibadah bahkan digunakan untuk membiayai guru les di RT 09 dan membantu pembangunan mushala di RT 07.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta memberikan apresiasi tinggi atas ekosistem terintegrasi yang dibangun oleh warga Koja ini. Bank Sampah Cemara pun telah menerima penghargaan Kalpataru dan sempat dikunjungi oleh Menteri Lingkungan Hidup.
"Mereka tidak hanya menjalankan fungsi bank sampah konvensional, tetapi sudah berkembang menjadi ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan organik, hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi," ucap Humas DLH Jakarta Yogi Ikhwan.
Yogi menambahkan bahwa bank sampah merupakan instrumen utama dalam strategi pengurangan sampah dari sumbernya sesuai Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2021. Upaya ini diharapkan mampu mengubah perilaku masyarakat secara jangka panjang.
"Sampah mampu mengubah perilaku masyarakat dan itu efek jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar dari sekadar angka tonase," jelas Yogi.
Tantangan Pengelolaan Sampah Jakarta
Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, menekankan bahwa meskipun sangat penting, bank sampah bukan solusi tunggal bagi Jakarta. Ibu kota masih bergantung pada TPST Bantargebang yang menerima lebih dari 7.500 ton sampah setiap hari.
"Jakarta masih sangat bergantung pada TPST Bantargebang yang luasnya sekitar 110,3 hektare, dan dokumen Renstra DLH DKI mencatat Bantargebang menerima lebih dari 7.500 ton sampah per hari," kata Mahawan.
Menurut Mahawan, pengolahan sampah organik di tingkat sumber sangat relevan untuk mengurangi emisi gas metana. Sampah organik mendominasi sekitar 45 hingga 55 persen komposisi sampah Jakarta dan berisiko melepaskan gas rumah kaca jika tidak dikelola dengan benar.
Mahawan menyarankan agar bank sampah bertransformasi menjadi infrastruktur sosial-ekologis kota yang konsisten. Hingga tahun 2025, tercatat masih ada sekitar 37 persen bank sampah di Jakarta yang berstatus tidak aktif.
"Ini menunjukkan masalahnya bukan hanya jumlah bank sampah, tetapi konsistensi operasi, pasokan sampah terpilah, insentif warga, pendampingan, pasar hasil olahan, dan dukungan logistik," jelas dia.