Bank Sampoerna Sesuaikan Bunga Kredit Secara Bertahap dan Selektif

Bank Sampoerna Sesuaikan Bunga Kredit Secara Bertahap dan Selektif

PT Bank Sahabat Sampoerna masih membuka peluang untuk menurunkan suku bunga kredit bagi nasabah, namun proses tersebut dilakukan secara bertahap dan selektif pada Minggu (10/5/2026). Langkah ini diambil oleh bank yang berfokus pada segmen UMKM tersebut guna mengimbangi biaya dana yang masih tinggi serta menjaga kualitas aset industri, sebagaimana dilansir dari Finansial.

Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menjelaskan bahwa penurunan suku bunga di tingkat industri tidak serta-merta menurunkan beban dana pada setiap bank secara instan. Penyesuaian ini memerlukan pertimbangan matang terhadap kondisi likuiditas internal masing-masing lembaga keuangan.

"Bank Sampoerna melakukan penyesuaian suku bunga kredit secara bertahap dan selektif," ujar Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna.

Henky memaparkan bahwa terdapat selisih waktu atau jeda sebelum penurunan bunga simpanan benar-benar memberikan dampak pada biaya dana perbankan. Hal ini dipengaruhi oleh kontrak deposito berjangka yang masih berjalan hingga masa jatuh tempo tiba.

"Meskipun bunga DPK secara industri menurun, penurunan biaya dana di tingkat bank sering kali memiliki jeda (lag time)," katanya Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna.

Guna memperluas ruang penurunan bunga kredit, bank kini berupaya meningkatkan komposisi dana murah atau CASA. Berdasarkan data akhir tahun 2025, rasio CASA Bank Sampoerna telah mengalami pertumbuhan signifikan menjadi 22 persen dari posisi sebelumnya yang sebesar 16 persen.

"Jika bunga kredit diturunkan terlalu agresif, margin bank bisa tergerus dan mengganggu kemampuan kami dalam membentuk cadangan kerugian (CKPN) yang memadai," ujar Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna.

Terkait kondisi penyaluran kredit, Henky menekankan bahwa tantangan saat ini tidak hanya terletak pada permintaan pasar. Manajemen risiko internal menjadi faktor krusial dalam memutuskan ekspansi pembiayaan, terutama pada segmen usaha kecil yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

"Di segmen UMKM yang menjadi fokus utama kami, permintaan sebenarnya tetap ada tetapi sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi makro," katanya Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna.

Penerapan prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas utama perusahaan dalam menjalankan operasional perbankan. Bank menegaskan tidak akan mengejar pertumbuhan secara agresif jika profil risiko calon debitur tidak memenuhi standar kesehatan bank yang telah ditetapkan.

"Bank Sampoerna tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) untuk memastikan kualitas aset terjaga. Kami tidak ingin sekadar melakukan ekspansi agresif jika profil risiko debitur belum sesuai dengan kriteria kesehatan bank," ujar Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa likuiditas perbankan nasional masih dalam kondisi memadai untuk mendukung sektor riil. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebutkan optimisme ekonomi terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 sebesar 122,89 dan PMI Manufaktur yang berada pada level ekspansif 50,1.

Artikel terkait

Rekomendasi