Bank Sentral Australia Naikkan Suku Bunga Jadi 4,35 Persen

Bank Sentral Australia Naikkan Suku Bunga Jadi 4,35 Persen

Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,35 persen pada Selasa guna merespons lonjakan harga energi global. Langkah ini diambil di tengah tekanan inflasi yang terus meningkat dan merembet ke berbagai sektor ekonomi domestik.

Kenaikan tersebut merupakan yang ketiga kalinya sepanjang 2026 dan membawa biaya pinjaman ke titik tertinggi sejak masa pandemi. Dilansir dari Money, kebijakan ini menandai pergeseran arah setelah bank sentral sempat melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2025.

Keputusan tersebut disetujui oleh dewan gubernur dengan perbandingan suara 8 banding 1. Kondisi ini menunjukkan kesepakatan yang lebih solid dibandingkan pertemuan pada Maret lalu yang sempat mengalami perbedaan pandangan tajam antaranggota dewan.

Dewan gubernur menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar telah memberikan tekanan tambahan pada stabilitas harga. Hal ini memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap struktur biaya nasional secara menyeluruh.

"Kenaikan harga bahan bakar menambah inflasi dan ada indikasi bahwa hal ini kemungkinan akan berdampak pada harga barang dan jasa secara lebih luas," tulis dewan dalam pernyataan resminya.

Otoritas moneter tersebut juga mewaspadai risiko jangka panjang jika inflasi tidak segera dikendalikan. Proyeksi internal menunjukkan bahwa target inflasi kemungkinan sulit dicapai dalam waktu dekat akibat faktor eksternal.

"Dewan menilai bahwa inflasi kemungkinan akan tetap di atas target untuk beberapa waktu dan bahwa risiko tetap condong ke atas, termasuk pada ekspektasi inflasi," tulis dewan.

Data pada Maret menunjukkan inflasi Australia menyentuh angka 4,6 persen, melampaui rentang target bank sentral yang berada di level 2 persen hingga 3 persen. Berdasarkan survei Reuters, sebanyak 30 dari 33 ekonom sebelumnya telah memprediksi kebijakan pengetatan ini.

Pasar keuangan merespons moderat dengan nilai tukar dolar Australia yang stabil di posisi 0,7167 dollar AS atau setara Rp 12.494. Namun, pelaku pasar memperkirakan adanya peluang kenaikan lanjutan sebesar 80 persen pada bulan Agustus mendatang hingga mencapai level 4,6 persen.

Tekanan ekonomi ini diperparah oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 114 dollar AS per barel. Gangguan pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz diprediksi akan terus membayangi pertumbuhan ekonomi Australia yang diproyeksikan melambat ke angka 1,3 persen pada akhir tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi