PT Bank Syariah Nasional (BSN) berhasil membukukan realisasi penyaluran pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 5,31 triliun hingga Mei 2026. Tren positif ini berjalan stabil dengan torehan realisasi di atas Rp 1 triliun per bulan akibat tingginya suku bunga perbankan konvensional, seperti dilansir dari Keuangan pada Rabu (3/6/2026).
Kepastian nilai cicilan sampai masa tenor berakhir menjadi alasan utama produk KPR syariah tetap diminati oleh masyarakat luas.
"Di saat bunga KPR konvensional cenderung tinggi atau bergerak naik, nasabah KPR syariah lebih diuntungkan karena margin atau ujrah telah disepakati di awal," ujar Alex Sofjan Noor, Direktur Utama Bank Syariah Nasional (BSN).
Kenaikan biaya dana atau cost of fund perbankan syariah diakui tetap terjadi akibat dampak situasi suku bunga tinggi tersebut, sehingga perseroan memilih menerapkan prinsip kehati-hatian demi menjaga pertumbuhan pembiayaan. BSN menargetkan total pembiayaan KPR mampu menyentuh angka Rp 15,7 triliun pada akhir tahun.
Target khusus dipasang untuk sektor KPR subsidi dengan sasaran penyaluran sebanyak 73.700 unit sepanjang tahun ini. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 24% dari realisasi tahun 2025 yang berhenti pada jumlah 59.481 unit.
Sejumlah langkah strategis disiapkan BSN demi mendongkrak pertumbuhan, termasuk memperkuat kolaborasi bersama asosiasi developer serta menginisiasi kerja sama dengan ekosistem berbasis Islam. Digitalisasi proses layanan KPR pun ikut dikembangkan guna mempermudah akses nasabah.
Segmen pekerja sektor informal hingga guru ngaji turut menjadi sasaran perluasan pembiayaan demi mendorong inklusivitas produk perumahan ini. Di samping itu, penguatan literasi dijalankan melalui layanan walk-in customer service serta pelaksanaan berbagai kegiatan edukasi dan workshop kepada masyarakat demi menjaga kesehatan bisnis perusahaan.