Aksi pembegalan dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang disertai ancaman senjata api serta senjata tajam marak terjadi di sejumlah titik wilayah Jakarta Barat selama satu bulan terakhir hingga Mei 2026. Gangguan keamanan ini dilaporkan melanda kawasan Kebon Jeruk, Grogol, Kembangan, hingga Cengkareng dengan modus operandi yang kian berani, seperti dilansir dari Megapolitan.
Peristiwa terbaru menimpa seorang pria bernama Alif (25) di Jalan Duri Raya, Kebon Jeruk, pada Minggu (10/5/2026) siang saat komplotan pencuri motor melepaskan tembakan di depan warung makan. Korban yang berupaya mempertahankan sepeda motor miliknya mendapatkan ancaman langsung dari pelaku yang menodongkan benda diduga pistol.
"Saya keluar, ‘woi mau ngapain ini?’. Dia langsung nodongin pistol ke saya, bilang ‘diam, diam, diam’ katanya," ujar Alif.
Meski tidak terkena peluru secara langsung, Alif mengalami luka akibat serpihan kaca saat para pelaku melarikan diri sambil membuang tembakan ke udara.
Merespons kejadian tersebut, pihak kepolisian melalui Polsek Kebon Jeruk dan Reskrim Polres Metro Jakarta Barat saat ini sedang melakukan investigasi mendalam terhadap kepemilikan senjata api para pelaku.
"Terkait senjata api, saat ini masih didalami oleh tim Polsek dan Polres," ujar Aqsha, Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Nur Aqsha.
Di lokasi berbeda, Jalan Arjuna Selatan, aksi pembegalan terekam CCTV pada Senin (4/5/2026) dini hari yang memperlihatkan korban dibacok menggunakan celurit setelah dihempaskan ke gorong-gorong. Kendati korban belum secara resmi melapor, kepolisian memastikan proses penyelidikan tetap berjalan guna meredam keresahan publik.
"Meski belum ada laporan, tetap kami dalami karena kejadian ini meresahkan masyarakat," ujar Aqsha.
Sementara itu, keraguan muncul dalam kasus jatuhnya seorang pelajar di dekat Stasiun Grogol pada Kamis (7/5/2026) malam yang ditemukan dengan celurit tertancap di pinggang. Polisi masih mengonfirmasi apakah kejadian tersebut murni pembegalan motor Honda ADV atau dampak dari aksi tawuran antar kelompok.
"Belum ada keterangan yang signifikan. Ada yang bilang dibegal, ada juga saksi yang menyebut terkait aksi tawuran," kata Alexander, Kapolsek Grogol Petamburan Kompol Alexander.
Insiden serupa juga terjadi di Kembangan pada Minggu (26/4/2026) malam, di mana warga memergoki komplotan pencuri yang kemudian melepaskan tembakan untuk meloloskan diri. Polisi masih mencari bukti fisik berupa proyektil guna memastikan jenis senjata yang digunakan oleh para pelaku dalam upaya pencurian tersebut.
"Jadi mereka belum sampai ke sasaran, kepergok, langsung dikejar sama warga," kata Rahmat, Kanit Reskrim Polsek Kembangan AKP Rahmat.
Kekhawatiran mengenai jenis senjata yang dibawa pelaku menjadi fokus utama karena belum adanya barang bukti proyektil di lokasi kejadian.
"Kalau letusan kan bisa jadi letusan senjata mainan, kan enggak tahu. Kecuali kalau kita nemu proyektilnya," ujar dia.
Keberhasilan penangkapan terjadi di pintu keluar Tol Rawa Buaya, Cengkareng, pada Rabu (22/4/2026) saat warga meringkus pelaku begal ponsel yang melukai korbannya dengan senjata tajam. Pelaku berdalih bahwa himpitan ekonomi menjadi alasan utama dirinya nekat melakukan tindak pidana tersebut.
"Pengakuannya dia itu melakukan itu motifnya untuk memberi makan anak dan istrinya," kata Yeni, Kanit Lantas Polsek Cengkareng AKP Yeni.
Menanggapi situasi ini, Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mendesak Pemerintah Kota Jakarta Barat untuk segera memetakan titik rawan dan memperbaiki fasilitas penerangan serta CCTV. Kenneth menegaskan bahwa kehadiran pemerintah secara konkret sangat dibutuhkan untuk memulihkan rasa aman warga.
"Pemkot Jakbar sudah harus turun langsung memetakan titik rawan, memastikan lampu jalan berfungsi, CCTV aktif, kawasan gelap tidak dibiarkan," kata Kenneth.
Ia menambahkan bahwa frekuensi kriminalitas yang terjadi hampir setiap pekan menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem pengawasan wilayah.
"Jakarta Barat hari ini sedang menghadapi persoalan keamanan yang serius. Hampir setiap pekan masyarakat mendengar kasus jambret, begal. Warga takut beraktivitas, terutama pada malam dan dini hari," ujarnya.
Kenneth juga menyoroti dampak psikologis masyarakat yang mulai merasa tidak aman bahkan di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.
"Kalau masyarakat sudah takut pulang malam, takut naik motor sendiri, takut berjalan di lingkungan tempat tinggalnya, berarti ada yang salah dengan sistem pengawasan kita," kata dia.