BEI Targetkan Peluncuran ETF Emas Segera Terealisasi

BEI Targetkan Peluncuran ETF Emas Segera Terealisasi

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan peluncuran produk investasi Exchange Traded Fund (ETF) emas dapat segera terealisasi dalam waktu dekat. Komitmen tersebut disampaikan oleh otoritas bursa pada hari Rabu, 20 Mei 2026, sebagai upaya memperluas instrumen investasi di pasar modal domestik.

Sembilan manajer investasi (MI) dilaporkan telah bersiap untuk menerbitkan produk investasi tersebut, sebagaimana dilansir dari Investasi. Dua manajer investasi tercatat sudah mengajukan dokumen permohonan pencatatan, sedangkan tujuh lembaga lainnya kini masih dalam tahap peninjauan hukum terhadap prospektus mereka.

“Semoga produk ini akan segera muncul dalam satu dua bulan ke depan ya. Mungkin paling cepat di akhir Juni atau sekitar bulan Juli,” ucap Denny dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono menjelaskan bahwa integrasi antara underlying emas fisik dengan ekosistem pasar modal menjadi tantangan utama saat ini. Selain itu, BEI tengah berdiskusi intensif bersama Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengenai skema pungutan pajak karena belum adanya aturan PPh final bertarif tetap untuk ETF emas.

“Untuk underlying emas ini belum ada aturan finalnya, masih berupa capital gain sehingga sedang dicoba simulasi perpajakannya yang masih terus dibahas dengan Direktorat Jenderal Pajak,” jelas Denny.

Struktur ekosistem produk baru ini akan mengintegrasikan manajer investasi, bank kustodian, dealer partisipan, serta lembaga bullion seperti PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Proses verifikasi dan audit berkala terhadap emas fisik wajib dijalankan oleh manajer investasi bersama bank kustodian, sementara Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bertugas mengawasi transparansi cadangan emas.

“Infrastrukturnya kita bangun bersama, yakni infrastruktur di pasar modal KSEI and infrastruktur yang ada di bullion. Sehingga aspek pengawasan dan monitoring produknya end to end dilakukan baik dari sisi underlying sampai dengan produk investasi ETF nya di pasar modal,” jelas Denny.

Pihak BEI optimistis bahwa kehadiran instrumen baru ini akan menarik perhatian besar dari investor ritel maupun institusi. Keunggulan komparatif produk ini terletak pada selisih harga yang kompetitif, keterbukaan informasi, serta kemudahan dalam bertransaksi di pasar sekunder.

“Histocical performance emas bisa mengungguli return banyak aset kelas yang ada. Korelasi investasi emas terbilang rendah dengan kelas aset lainnya, memberikan manfaat diversifikasi yang signifikan dan meningkatkan manajemen risiko portofolio,” jelas Denny.

Dukungan terhadap instrumen baru ini juga datang dari pelaku industri pengelolaan dana yang menilai produk ini menawarkan transparansi tinggi. Pergerakan harga instrumen ini dipastikan mengikuti fluktuasi harga emas internasional secara akurat dengan dukungan aset fisik yang diaudit rutin.

“Bagi investor ritel, ini adalah kesempatan untuk melakukan diversifikasi portofolio dengan modal yang terjangkau. Tidak perlu menunggu punya uang puluhan juta untuk membeli batang emas 10 gram, dengan ETF, berinvestasi bisa dimulai dalam satuan unit yang setara dengan porsi kecil emas namun dengan nilai pertumbuhan yang sama,” jelas Danica.

Plt. Presiden Direktur PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Danica Adhitama menambahkan bahwa kehadiran emas digital dan ETF berbasis komoditas ini didorong oleh regulasi pemerintah untuk pendalaman pasar keuangan. Pemanfaatan teknologi finansial kini mempermudah akses masyarakat luas untuk berinvestasi langsung melalui gawai pintar.

Artikel terkait

Rekomendasi