PT Berdikari Optimalkan Proyek Hilirisasi Ayam Topang Makan Bergizi Gratis

PT Berdikari Optimalkan Proyek Hilirisasi Ayam Topang Makan Bergizi Gratis

Badan Usaha Milik Negara peternakan PT Berdikari mengoptimalkan Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi atau HAT guna menopang pasokan protein untuk program Makan Bergizi Gratis pada Sabtu, 16 Mei 2026. Langkah strategis ini dilakukan sekaligus untuk merespons dinamika pasar terkini melalui pembentukan ekosistem peternakan yang saling terhubung.

Pengembangan sektor peternakan ayam dari hulu ke hilir ini dijalankan di bawah koordinasi Kementerian Pertanian sebagai salah satu proyek prioritas nasional. Berdasarkan data yang dilansir dari Money, standar penyajian program Makan Bergizi Gratis membutuhkan sekitar 35 hingga 40 gram daging matang tanpa tulang atau setara 50 gram daging mentah per anak.

Sementara itu, kebutuhan telur ditetapkan sebanyak satu butir dengan bobot sekitar 60 gram yang akan disajikan tiga kali dalam sepekan. Dalam implementasinya, satu dapur produksi yang melayani hingga 3.000 porsi per hari memerlukan 350 sampai 400 kilogram daging ayam serta 3.000 hingga 4.000 butir telur setiap harinya.

Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi menjelaskan bahwa integrasi ekosistem ini bertujuan agar para peternak rakyat tidak lagi menghadapi fluktuasi pasar sendirian. Program tersebut juga ditargetkan mampu memeratakan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia sekaligus memperkuat produktivitas peternak.

"Selain memperkuat swasembada pangan nasional, Proyek HAT juga menjadi langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Maryadi, Direktur Utama PT Berdikari.

Upaya percepatan swasembada pangan ini diselaraskan dengan amanat Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026. Operasional sektor ini juga mengacu pada tata kelola dan standar usaha terukur yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34 Tahun 2025.

"HAT diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri perunggasan nasional melalui ekosistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir," ujar Maryadi, Direktur Utama PT Berdikari.

Guna memastikan kelancaran proyek, PT Berdikari menggelar Focus Group Discussion dan mengirimkan tim ahli bersama jajaran direksi untuk meninjau langsung perkembangan fasilitas di lapangan, salah satunya di wilayah Malang. Evaluasi dilakukan terhadap aspek studi kelayakan dan rencana tapak agar implementasi proyek tetap kokoh.

"Berdikari bersama tim ahli turun langsung meninjau Proyek HAT di Malang," ujar Maryadi, Direktur Utama PT Berdikari.

Hasil peninjauan ini diharapkan menjadi dasar penyesuaian regulasi agar program hilirisasi dapat berjalan matang sesuai kebutuhan industri peternakan nasional. Manajemen menegaskan pentingnya keselarasan rencana dengan realitas di lapangan.

"Kami memastikan setiap aspek Feasibility Study (FS) dan site plan selaras dengan realitas lapangan agar proyek berjalan matang, terukur, dan sesuai kebutuhan industri," jelas Maryadi, Direktur Utama PT Berdikari.

Melalui rekomendasi para pakar, struktur industri perunggasan nasional diharapkan memiliki fondasi yang kuat. Skema hilirisasi terintegrasi ini menjadi komitmen jangka panjang perusahaan dalam membangun ketahanan pangan.

"Proyek ini adalah ikhtiar besar perusahaan dalam membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi," tegas Maryadi, Direktur Utama PT Berdikari.

Di sisi lain, pengendalian ritme pembangunan fisik di lapangan dikawal secara ketat oleh jajaran sekretariat perusahaan. Pengawasan berkala dilakukan mulai dari fase perencanaan awal hingga eksekusi nyata di tingkat peternak.

"Berdikari semakin serius memastikan setiap tahapan Proyek HAT berjalan optimal, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga implementasi di lapangan, sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi peternak rakyat dan swasembada pangan nasional," ujar Hasbi Al-Islahi, General Manager Corporate Secretary & SR PT Berdikari.

Pada fase awal pelaksanaan proyek ini, PT Berdikari telah menjalin kolaborasi dengan kalangan akademisi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk mempercepat adopsi teknologi. Langkah berikutnya berfokus pada penanganan langsung di berbagai wilayah demi memastikan seluruh target pemerintah tercapai secara terukur.

Artikel terkait

Rekomendasi