Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kabar viral mengenai seorang siswa SDN 01 Banjaranyar, Kabupaten Pemalang, yang dikeluarkan dari sekolah setelah orang tuanya mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (5/5).
Koordinator Regional BGN Jawa Tengah, Reza Mahendra, menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan kesalahpahaman karena hingga saat ini siswa yang bersangkutan masih terdaftar sebagai peserta didik sah di sekolah tersebut, dilansir dari Detik Health.
"Kejadian di SDN 01 Banjaranyar mengenai siswa yang dikeluarkan karena kritis terhadap MBG itu tidak benar. Hingga saat ini, tidak ada siswa yang dikeluarkan. Siswa tersebut masih berstatus peserta didik," kata Reza, Selasa (5/5).
Reza menyatakan bahwa polemik bermula dari persepsi keliru orang tua mengenai anggaran menu MBG sebesar Rp15 ribu, padahal tarif aslinya hanya Rp8 ribu untuk porsi kecil dan Rp10 ribu untuk porsi besar.
Pihak sekolah telah berupaya melakukan mediasi dan memberikan edukasi terkait rincian anggaran tersebut dalam pertemuan resmi bersama wali murid.
Selain itu, penanganan masalah ini juga melibatkan aparat setempat melalui proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan evaluasi kualitas layanan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemalang Randudongkal 2.
Isu ini diketahui telah muncul sejak 27 Januari 2026 yang awalnya berfokus pada kritik terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) dan infaq sebelum melebar ke program MBG pada pertengahan April 2026.
Setelah pertemuan klarifikasi dilakukan, siswa tersebut dilaporkan tidak lagi masuk sekolah meskipun pihak sekolah sudah berupaya membujuk orang tuanya agar sang anak kembali mengikuti kegiatan belajar.
Lembaga pendidikan terkait telah menjalani pemeriksaan di Polres Pemalang sebanyak enam kali atas dugaan perundungan, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama kuasa hukum pada 4 Mei 2026.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Kepala SDN 01 Banjaranyar, Sri Umbartiningsih, memberikan kesaksian mengenai respons positif mayoritas peserta didik terhadap pemberian makanan tersebut.
"Siswa di sekolah kami sangat antusias adanya MBG. Ini dibuktikan dengan siswa yang menunggu ketika MBG dibagikan. Siswa sering kali meminta untuk memakan MBG punya temannya yang tidak berangkat sekolah," ujarnya.
SPPG Pemalang Randudongkal 2 yang sudah beroperasi sejak September 2025 berkomitmen terus memantau kasus ini guna memastikan pelayanan bagi 3.608 penerima manfaat tetap berjalan optimal.